Oktober 30, 2009

“Public Love Affair”

Oktober 30, 2009
Terminal 3 Soekarno-Hatta Airport, sometimes in July 2009.

Penerbangan Air Asia yang kutumpangi tiba di Jakarta sekitar jam 8 malam. Saat turun dari pesawat, ada rasa membuncah di dadaku, aku akan bertemu dengannya. Lagi. Dia menjemputku.
Saat keluar dari pintu kedatangan, aku tak melihat sosoknya, tapi sms yang dia kirim saat aku masih berada di pesawat mengatakan kalau dia sudah di perjalanan ke bandara. “Hari jumat, Jakarta selalu macet” pikirku.
Suasana terminal 3 yang masih asing bagiku membuat mataku mencari-cari di kerumunan para penjemput. I can’t find him, but sure he’ll finds me. Itu dia, berjalan ke arahku saat aku keluar dari pagar batas para penjemput. Dia menciumku, seperti biasa. Rutinitas yang selalu kami lakukan saat bertemu, tak peduli saat itu kami ada di tempat umum. It’s called “Public Love Affair”.
Selama menunggu Xtrans [bus ‘elit’ yang mengeluarkan ongkos sedikit], aku tak bisa berhenti menciumnya, tangannya terus saja memeluk pinggangku dan aku tak bisa mengendalikan bibirku untuk tidak menyentuhnya. Padahal baru 2 minggu yang lalu kami bertemu, di Jakarta, tapi rasa rinduku tak terbendung. Saat Xtrans datang, kami melanjutkan acara ‘tempel bibir’ di dalam bus yang hanya berisikan 5 orang, termasuk kami dan supir.

Isn’t love is great when it come to beautiful things, such as make out? Menggelikan, tapi kegiatan ini sudah kami lakukan sejak pertama kali bertemu. And we just couldn’t stop.
That night is the happiest moment, aku datang untuk merayakan ulang tahunku bersamanya besok malam, tapi bagiku, bukan itu yang menjadi inti kedatanganku. Aku terlalu merindukannya.

Telepon berjam-jam, ongkos pesawat yang mahal, dan public love affair...
I miss all of that...much worse than it ever been.

Oktober 28, 2009

Repeat from the beginning

Oktober 28, 2009
Daripada bercerita kepada orang lain, dulu aku punya sebuah buku diary super tebal yang setiap halamannya bertuliskan kalimat “i miss you” dan “i hate you”. Aku selalu menuliskan setiap kalimat sesuai dengan suasana hatiku sampai rasa itu mereda, apakah aku sedang merindukanmu atau sedang membencimu, lalu menghitung kalimat mana yang lebih banyak ‘benci’ atau ‘rindu’. Tapi selalu saja kalimat “i miss you” lebih banyak. ^_^
You cannot tell how much you love someone until you count the words.

Jadi, hari ini aku memulai kembali...menggunakan kalimat yang berbeda, jauh lebih panjang. Maka ketahuilah, ini adalah caraku untuk melupakan sekaligus mengingatmu. And I dont counts anymore...[in case you asking me that question someday].

Aku membaca di sebuah novel, kalimat berbunyi “suatu saat, suatu cinta yang lain...”
Everything remains me of you..I was your sentimental love [just like the song “i love you for sentimental reason”]. Pathetic and enchanting at the same time. Alasan-alasan sentimentil itu akan menghilang seiring dengan waktu, berubah menjadi cinta yang lain, alasan sentimentil lain, untuk orang lain. Lagu itu tidak lagi dinyanyikan untukku.

Yang harus terjadi, maka terjadilah.
Apa yang sudah kita lewati, maka berlalulah.

Repeat from the beginning...
Sampai waktu mengatakan “the end”.


PS: I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you I miss you..

*I hope, today when you wrote “really miss your smile 8->” you thought about me, and its for me. So I can say “I miss you too...so much.”

Oktober 27, 2009

Goodbye drugs

Oktober 27, 2009