Februari 15, 2009

Room MakeoVer

Februari 15, 2009
Jadwalku kemaren nganterin ipeh ke RMC [Ratulangi Medical Center, red] buat nyari second opinion soal tonsilitis kronisnya, ternyata emang musti diangkat dua-duanya. dah rusak, fungsi kelenjarnya gak mungkin kembali, bahkan udah menyebar ke kerongkongannya. Kata dokter Qadar, "Tonsilnya udah rusak, gak mungkin kembali dan satu-satunya jalan emang musti diangkat. Kalo dibiarin terus begini akan jadi penyakit kambuhan dan bakterinya nyebar kemana-mana. Yang pasti, kerongkongan gak mungkin dioperasi." Aku membayangkan kalo ada yang namanya operasi kerongkongan pasti namanya bakal jadi 'esofagusektomi' hahaha...cute name.

So, this is the picture of si sakit nyonya ipeh en si pengantar nyonya dhini yang kurang tidur. Gila tu mata ngantuk abis.

And, this morning...begini nih tampangku lagi tidur. Udah dua minggu ini gak pernah tidur senyenyak ini. Fotonya sapa yang ngambil ya??


Gak tau kenapa, bangun tidur ini aku ngerasa kebebanin banget sama kondisi kamarku yang gak terurus selama sebulan terakhir. Bulan januari kemaren emang sibuk banget, even makan juga gak teratur dan setelah melihat jamur-jamur mulai menumbuhi stetoskop litmann-ku [tu barang satu harganya 600rb skarang] aku pun mulai berinisiatif untuk membersihkannya. mulai dari stetoskop nyebar ke meja belajar, en lemari beserta isinya. Akhirnya bersih dehhh....bebas jamur dan debu yang udah sebulan menemani hari-hari sibukku. no more jamur!! [gara-gara musim hujan, kamarku jadi lembab jadinya gampang jamuran dehh barang-barang sekitarnya. menyedihkan. hujan, cepatlah berakhir].







Hasil dari acara bersih-bersih hari ini adalah dua kantong laundry yang teronggok manis di samping tempat tidurku. I have to call the euro laundry to pick them up [jangan salah, dua kantong laundry itu belum apa-apa, masih ada seember baju yang sudah dicuci di kamar mandi tapi belum dijemur, gak tau kenapa males banget ngangkatnya ke jemuran].

Okay, maag-ku kambuh sekarang, udah mual-mual, I have to go find something to eat.
see ya...





Februari 11, 2009

Bidadari Lajang

Februari 11, 2009
Meresapi makna dari setiap kata dan pancaran mata
Menarik napas panjang untuk setiap kesabaran yang melilit
Menikmati keanggunan seorang bidadari lajang
-Dini Rustwiy Hapsari-

Aku terus memikirkan perempuan itu, tak disengaja, tapi ia terus melekat dalam sel-sel otakku. Aku baru mengunjunginya lagi kemarin.

Aku selalu menerka-nerka apa yang ada di dalam pemikirannya dan pertimbangannya. Mengapa sampai usia ini ia belum juga ingin menikah.

Parasnya cantik, tubuhnya sintal seperti gitar, matanya yang bersinar penuh kecerdasarn. Aku mengagumi kedewasaan dan kesabarannya.

Seorang bidadari lajang yang digerogoti kesepian, itulah yang kulihat saat memandangnya lekat-lekat. Sinar matanya tak mampu menutupi kesepian seorang anak tunggal.

Aku yakin ia memiliki alasan kuat mengapa belum ingin melengkapi hidupnya dan berbakti kepada seorang suami. Apakah ia mendambakannya?

Aku sungguh ingin tahu. Tapi rasa ingin tahuku selalu membuat lidahku kelu saat berhadapan dengannya. Kharismanya meredamku.

Teh, I really wanna know why.

Februari 01, 2009

Dentist Girl's Day Part 2

Februari 01, 2009

Since last week, it’s become our routine to hang out together dan tujuan kali ini adalah Wedding Expo 2009 di Clarion Hotel Makassar.

Sebenernya dadakan juga planning-nya, secara aku en ipeh udah berencana mu nyari alat di atlantik. Awalnya tujuannya cuma itu doang. Dalam perjalanan, datanglah sms uleng...
“Dear girls, yang mau ikut ke wedding expo di clarion, kumpul di rumahnya tiya jam setengah tiga.”
Aku langsung bilang “Boleh.” [padahal otakku mengingat janji sama miske en dokter kiki yang mau ke rumah. Maap...maap]. Dan, karena gak mau pulang ke rumah, takutnya aku bakal tidur en malah gagal rencana ke clarion-nya [secara aku ngantuk banget, baru tidur jam 3 gara-gara bercinta lewat udara], akhirnya diputuskan untuk gak pulang.
Bayangin aja, aku en ipeh sampe di atlantik jam setengah 11an gitu, nanya-nanya alat en beli beberapa diantaranya cuma butuh waktu beberapa menit, gak sampe setengah jam. Abis tu kita mampir ke hotel celebes ambil ATM lalu cabut ke Monalisa toko kain. Aku kalap baru liat kain jilbab cantik-cantik.....akhirnya aku beli 5 biji. [hihihi...] padahal gak ada rencana mu beli kain segala. Keliling toko kain ternyata membuat betis berkonde, asli capek banget. Perjalanan berlanjut ke toko perlengkapan jahit, secara ipeh nyari renda buat bajunya [calon desainer yang satu ini butuh waktu berjam-jam buat milih renda doang...gila!].

Kami baru keluar dari toko renda itu sekitar jam 2an. Hahaha...butuh 2 jam untuk memilih renda yang tepat seharga 12.500. belanjaan cuman seiprit en harganya Cuma 12.500 butuh waktu 2 jam sampe aku terkantuk-kantuk, mana gak ada tempat duduk buat mengistirahatkan kaki. Plus, hujan deras. Lengkap deh!

Next destination is MTC, buat makan siang en nyari sendal plastik buatku [yang akhirnya gak nemu, sebagian besar warnanya pink en biru. Bukan warna yang bersahabat untuk kakiku].

Akhirnya, makan siang di Nasi Bakar di food court lantai 4. Nasi bakar, bakso tahu, perkedel jagung, plus iced capuccino berhasil menenangkan perutku dan mataku yang udah minta diganjal pake batang korek api saking ngantuknya.

Tebak, aku ketemu siapa di food court???
Bukan cowok cakep atau mantan gebetan, tapi DOKTER KIKI en temennya yang makan gak jauh dari tempatku. Actually, tepat di depanku dan dia noleh-noleh ke arahku terus. [hahaha....]. Mungkin dia pikir, “Ini anak, bukannya di rumah ngerjain kerjaan gue, malah ngelayap makan di MTC.”

Yaa...gitu dehh...dini juga manusia gitu lohh...emang kerja mlulu. Udah sebulan ini aku gak jalan-jalan. Sebulan ini aku punya rute tetap, rumah-kampus-rsgm-klinik-warnet-rumah. Nice huh?! The Most Wanted person need to stay home 24-7.

Okay, lanjut.
Setelah dari MTC, acara berlanjut nyari bahan di toko sinjai. Orthoplast buat pasienku dan alginat buat pasiennya ipeh. Ternyata pesanan orthoplast-ku belum ada. Jadi musti balik ke situ lagi next week, it’s mean, pasienku akan komplain lagi yang membuatku makin tertekan jadi koas. [hahaha...hiperbola].

Tujuan berikutnya adalah Clarion Hotel di jl. Pettarani makassar. Di bawah hujan deras dan kepedean tingkat tinggi ‘coz berani datang ke hotel dengan dandanan ala kadarnya [pake sendal jepit-jepitan, rambut berantakan, sebagian baju dan jeans basah, tas juga ikutan basah]. Kenapa juga itu jalanan menuju lobinya clarion jauh bener, mana jalan kaki dan menenteng payung pula [kucel abis pokoke].

Akhirnya, pas nyampe di lobi clarion, mendaftar dalam guest book, dan menerima segala macam brosur wedding expo, tujuan pertama aku en ipeh adalah kamar mandi yang ada di sisi kiri depan pintu masuk ballroom [untung udah pernah ke sana en memahami seluk-beluk itu gedung].

Dan, untung juga aku bawa parfum, lipstik, lotion, en kacamata untuk menutupi mata ngantukku. Asli ngiri banget pas ada orang yang masuk ke toilet. Dandanannya rapi, pake high heels, dan harum. Bandingkan sama kita yang baru datang dari kampung, basah, kucel, rambut berdiri, muka pucat dan sayu. Bukan tampang yang oke untuk ikut wedding expo [hahaha...tapi pede aja lagi. just be yourself].

Anak-anak yang lainnya belum datang, aku en ipeh orang pertama yang nyampe. Berikutnya Fina yang ikut gabung waktu kami udah keluar dari toilet [dia baru nyampe dengan dandanan yang jauh lebih baik tentunya].

Tongkrongan pertama kami adalah Primero Photography yang kami kenal gara-gara kawinan-nya leli di ballroom itu juga. Albumnya keren-keren, aku jadi pengen cepet foto pre-wed juga [tapi gak ada pasangan en duit..hahaha..].

Going ot wedding expo will make you realize that “Married need lots of money!!” Mulai dari foto pre-wed, undangan, tempat, dekorasi [dekorasi pelaminan en kamar pengantin], kebaya en baju adat yang mau dipakai, make up [belum termasuk acara luluran dan siraman], makanan, cincin kawin, even bantal dan bed cover juga ada rancangannya, mobil hias pengantin. Asli ribet banget dan muahaallll...gak usah merit dehh. Daripada setelah merit ngutang kanan-kiri dan makan cinta. Hahaha....



And going to wedding expo also make realized that this is the time when you have to be a grown woman with mature thoughts about marriage and how it will be.

Personally, having that kind of thoughts in my head makes me wondering, who will I marry? Can I have a dream wedding like this? Will he love me forever if he could give me the kind of wedding I always dream about?

The perfect wedding day is not a guarantee that you’ll be happier with your marriage. The perfect wedding is not always tell the truth about how’s your marriage will be.
It’s all depend on you and your future hubby of course.

Hari yang melelahkan itu diakhiri dengan berbagai pertanyaan dalam diriku. Aku sungguh tak punya rencana menikah saat ini, kalau ingat pacar pun aku tak punya.

Dinner di rumah makan Marem di jl. Boulevard panakukkang mas menutup dentist girl’s day part 2, nasi pecel [yang membuatku kepedesan, asli pedes banget!!] dan jus lemon mengisi perut yang kelaparan sejak sore. [untungnya aku sempet ngopi bentar di clarion...hehehe....ada pengganjal perut].

Planning next week adalah going martha tilaar spa di Clarion lantai 3 [kalo aku gak sibuk tentunya en ada yang nemenin, gak pede spa sendirian, secara satu badan bakal dibuka-buka en dilihat oleh orang asing].

Januari 30, 2009

Miss Independent

Januari 30, 2009

Baru-baru ini, aku menghadapi masalah “kemandirian”.

This ‘miss independent’ thing had my friend finally said “Berhentilah. Fokus pada koasmu. Apa untungnya bagimu semua pekerjaan itu?”

Mungkin, dia tidak mengerti. Kesibukan ini adalah pelarianku. Pekerjaan ini adalah tempatku bersenang-senang dan tenggelam tanpa perlu berpikir apapun. Menjadi “Miss Independent” adalah hal yang aku inginkan dan aku menikmati kesibukanku, walau terkadang mengeluh [who doesn’t anyway?].

Maaf sayang, aku mengerti kau merindukanku. Aku mengerti kau ingin aku kembali seperti dulu. Seorang dini yang tidak mengurung diri dalam kamar karena kecapekan dan sibuk sendiri.

Aku tak bisa seperti dulu lagi. Sudah terlanjur, aku ada di dalam jiwa yang berbeda kini. Aku yakin kau melihat perubahannya. That’s why you complaining.

Kita masih berteman, dan aku masih akan menanggapimu. Kita masih bisa makan siang bersama dan bergosip.

Aku tidak meninggalkan teman-temanku. Aku tidak menghindar. Tapi pada suatu saat, aku lelah bergosip, aku lelah hanya duduk dan berbicara. Aku ingin melakukan sesuatu yang menggunakan kepalaku, bukan hanya hatiku.

Aku yakin kau mengerti kenapa aku harus berlari dari hatiku. I just can’t hold it anymore. I have to run or I will never survive.

Jadi, memang pekerjaan ini adalah pelarian bagiku. Lari dari hatiku, bukan lari dari temanku. Maaf jika akhirnya aku justru menjauh, dan semua tidak berjalan seperti yang aku inginkan, dan gelarku terhambat.

Aku memahami konsekuensinya, aku sudah belajar. Dan aku akan menjadi dokter tahun ini. Don’t you worry. You’re not the only one [hehehe....].

So, here I am. Back again to see you everyday in the hospital and we’ll have lunch together again. Everyday, if I’m not busy chasing my case of course.

Aku mengerti keluhanmu hanya untuk membuatku lebih baik dan cepat wisuda. Jangan kuatir sayang, aku akan wisuda tahun ini, but I still keep the job. I’ll manage my time, I promise. You’ll be seeing me working on my case ‘till drop, everyday.

Ini berarti LESS SLEEP !! hikhik....mataku yang cantik...maap yaa...I have to.

Ab Imo Pectore Part 2

Terasa geli saat melihatmu seperti anak kecil karena jatuh cinta untuk ke sekian kalinya pada seorang perempuan. Apakah dia gadis terakhir yang beruntung mendampingimu? Kita lihat saja nanti. Waktu yang akan menyatakan segalanya.

Aku tak dapat berkata apapun, selain “Oke, dia cantik dan sepertinya dewasa. Keep it. Undangannya ditunggu yaaa...” Dengan kata lain, I’m happy for you. Apapun yang bisa membuatmu terlihat seperti anak kecil, pastilah menyenangkan dan membanggakan bagimu. Jadi, berbahagialah. Lengkapilah hidupmu. Kesendirianmu sudah berakhir dan inilah saatnya menghentikan semuanya.

Aku telah meninggalkanmu lebih dulu, sejak lama. Jauh sebelum kau menetap. Sebelum kau mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Jadi, semua ini tak masalah bagiku. Toh, kita akan tetap berteman dan aku akan selalu menyimpanmu sebagai sahabat terbaik yang pernah ada. Kita hidup di jalan yang terpisah, beda arah meski tujuannya tetap satu.

Cintaku padamu telah lama pudar saat aku menemukan cinta yang lain. Saat aku mengendapkan dia dalam hatiku. Dia mencintaiku lebih dari aku mencintainya, seseorang yang aku cari selama ini, aku telah menemukannya. Aku telah berbahagia, maka aku juga ingin kau berbahagia.

Menetaplah di hatinya. Jagalah perasaannya. Jangan pernah kau menghancurkannya seperti saat kau membuatku kecewa dan pergi. I really am happy for you. I’m glad that you found one, I hope she’s the one.

Just be good.

I’ll be here.



Januari 26, 2009

Dentist Girl's Day

Januari 26, 2009
Bisa dibilang kemarin adalah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Semua hal yang dilakukan spontan bisa menjadi ajang pelepasan kepenatan. This long weekend tidak kuhabiskan dengan tidur-tidur ria di rumah seperti yang direncanakan.

Pagi-pagi aku udah bangun, bersih-bersih dan nyuci baju [secara udah terlanjur kurendam jadi gak bisa dibawa ke laundry]. The homework Done! Next thing I did was memelototi compie en beberapa lembar kertas penuh tulisan english tentang ortodontik. Yup! Another school job. Kerajinan! Hehehe...

Hari minggu ini ada dua acara akikahan temanku. Upi en Leli. Di dua tempat berbeda dengan ritual yang berbeda pula pastinya. Acaranya leli dimulai pagi jam 10, so I wasn’t coming. Still have the job. Lagipula, musti pake kebaya [or something like that], gak kuat deh pake kebaya siang-siang dengan tubuh yang mulai melar ini [kebayanya udah gak ada yang muat...hahaha]. Acara di tempat Leli pastinya acara semi-formal gitu, ada upacara adatnya. Secara Leli anak tunggal en ini cucu pertama

Setelah mandi, menyempatkan checking my blog en customizing a ‘lil bit [gak nahan soal kreativitas itu...pengen dipraktekkin semua...hehehe]. Baru nongkrong di warnet satu jam, datanglah sms temanku “Din, udah siap-siap belum. Kita dah mu jemput nih.” You know what I did? I ran home. Ganti baju secepat mungkin, rambut ini masih basah gara-gara keramas. Gak tau mau dibentuk apa, jadi kuurai biasa. padahal aku paling gak tahan sama yang namanya rambut terurai [reseh en gerah, potong aja ni rambut]. Jemputanku baru datang satu jam kemudian, sekitar jam 1an gitu. Bete!

Di dalam mobil itu berkumpul Aan, sitha, ela, novi, me and rara. Dan, akan nambah tiya lagi. hahaha...bisa dibayangin tu mobil penuh. Saling menyusutkan pantat, bahkan sitha en ela rela duduk berdua di depan.

Sudah tersedia tenda di depan rumah upi dan jalanan di sekitarnya penuh mobil berjajar, jadi parkir mobilnya Aan agak jauh dari rumah upi [bisa dibayangin gimana parkiran di sekitar rumahnya leli...hahaha...pasti lebih parah].

And I finally met the beautiful baby Key. Tubuh mungilnya tidur di dalam ayunan favorit. Even dicubitin pipinya en dibangunin berkali-kali, dia gak akan bangun. Lucu abis si Key [jadi pengen punya baby...hehehe].

Baby key ternyata cantik, dia punya dagunya si Upi yang panjang en putih. Pipi tembemnya ngegemesin, jadi pengen nyubit terus. Serius, mama-papanya gak tergolong ‘putih’ ato ‘kuning langsat’ [hahaha...] tapi kok anaknya bisa bersih gitu ya? Kata upi, ‘berkat keajaiban air tahu’. Jadi, ibu-ibu hamil sekalian [sapa tau ada yang baca ini], minumlah air tahu banyak-banyak kalau mau baby-nya putih berseri kayak baby key. She’s beautiful [kecuali hidungnya...hihihi..sorry, Pie]

Okay, aku kelamaan ada di kamar si baby sampai lupa sama laparku, padahal belum ngunyah apapun sejak pagi.

Gak lama setelah makan, kami pamit. En, lucky banget si Upi punya mertua yang baek banget! [oya, kata upi, ‘kalau makan tu piring harus bersih, gak ada sisa makanan. Biar disayang mertua ntar....wejangan nenek katanya]. Kebahagiaan temanku yang satu itu udah lengkap. Bisa kulihat wajahnya berseri-seri, even berat badannya 70 kilo sekarang [“tapi kan, dah menghasilkan. Daripada kamu, merit aja belom tapi tu badan udah gede aja”, jawab upi. Hehehe...jadi malu].

Jadi, bulan depan, Upi is back on track. Jadi partner-ku masuk prosto and konservasi. Happy busy ria!!

On the way pulang dari rumah upi, saat lagi seru-serunya nyanyi lagu lama milik Kavana ‘thank you’, tiba-tiba Aan nyeletuk, “Ayo kita pergi karaoke sekarang.” WHAT?! Then I said “gimana kalau nganterin aku pulang dulu?” Dan ela menjawab, “Ikut aja napa” Hahaha....and there I am. Ikutan karaoke. Ikutan nunggu sejaman gara-gara ngantri ruangan large, [setelah semua setuju, Sitha langsung memainkan handphone-nya memanggil pasukan].

I can’t believe I was singing!! [untung semua manusia dalam ruangan gak pada mampus dan gak diusir sama petugasnya karna suaraku, jumlah desibelnya gak sesuai untuk telinga manusia...hahaha...].

Ternyata karaoke sangat melelahkan, suaraku habis dan badanku sakit semua gara-gara kebanyakan goyang....salut buat ela, udah sibuk joget masih bisa nanyi dengan suara stabil dan ketawa.

Kegilaan itu diakhiri dengan dinner. Nasi uduk, ayam goreng and black oreo juice ternyata berhasil menyeimbangkan perutku yang udah berteriak kelaparan sejak jam 5. Wondering, apa ada orang yang tahan nyanyi sendiri 3 jam??

Pas pulang, aku langsung terkapar. Orang terakhir yang berhasil meneleponku dalam keadaan sadar adalah mama. Waktu baru selesai mandi. Setelah itu, aku hilang kesadaran, masuk ke dunia mimpi. Tengah malam, aku mendapati 7 missed calls dan 3 sms. Maap ya...orang penting lagi capek. Buzz off! Hape di-silent.

So, today, I’m back on track being busy woman. The most wanted person, even libur tanggal merah. Hikhik....

Januari 14, 2009

drg. Rachmawaty Sudjaroh

Januari 14, 2009
Gelar itu sudah didapatkannya, hasil kegigihannya dalam santai dan diam. Perempuan berjilbab itu dipanggil Rahma, seorang putri bungsi dari empat bersaudara yang menjalani kehidupan dengan perjuangan. Akhirnya, Rahma berhasil membuat orang tuanya bangga dan mandiri berdiri di atas kakinya sendiri.
Di luar itu, aku mengagumi daya ingat yang ia miliki, kebiasaannya tidur tanpa rasa bersalah sepanjang hari, dan ucapannya yang kadang mengiris hati. Ia tetaplah sahabatku. Segala kelebihan dan kekurangannya, aku tahu dan memakluminya.
Aku juga mendambakan caranya menangani pasien, segala ketenangan dan kepercayaan dirinya saat menyentuh setiap gigi pasiennya dengan tangan telanjang, tanpa masker dan handscoon.
Rahma akan berangkat PTT di Ambon satu bulan lagi, aku akan kehilangan seorang sahabat lagi. Perempuan yang selalu mengejekku dengan sebutan “Gorila memanah bidadari”. Panggilan yang tak akan pernah membuatku menangis atau tersinggung, hanya tertawa menanggapinya.
Akhirnya, sahabat-sahabatku pergi satu per satu. Pada saatnya nanti, giliranku pun akan tiba untuk mengucapkan selamat tinggal dan melangkah sendiri ke arah yang berbeda. Tapi, suatu saat, kami akan berkumpul kembali, just us.

“Selamat jalan Amce, semoga cepet dapet jodoh” [hahahaha]

Kerelaan Ama

“Aku tidak merasa dirugikan.” Kata Ama menanggapi keluhannya sendiri terhadap salah seorang sahabatnya, Febri yang melupakannya di kala senang dan datang padanya saat membutuhkan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah pengorbanan untuk seorang teman, demi menjaga harapan akan sosok teman sejati.
Betapa pengorbanan ini sangat mahal harganya, tapi Ama terus hidup dengan harapan temannya akan mengingatnya saat ia berbahagia, bukan hanya saat membutuhkan.

Januari 07, 2009

SisterHood

Januari 07, 2009
Setelah 2 tahun nggak ketemu, akhirnya we’re here together again, talking about anything, laughing at anything, smiling and sharing stories of our life. Satu hal yang paling mencolok dalam penggosipan kami adalah “Marriage” [hahaha...] ternyata udah ngerasa tua dan saatnya menggandeng suami.

Udha yang punya gandengan dokter selama 4 tahun 3 bulan dan keluarga udah ngomongin soal ‘kesabaran’ menuju pernikahan [this is become the most annoying issue in her life right now]. Aku pernah ada di posisinya 2 tahun lalu, menunggu dilamar sang kekasih dan ditanya semua teman ‘kapan undangannya nihh??’ adalah hal yang paling menjengkelkan dan jawaban ‘insyaallah, sabar aja’ musti dipatenkan untuk semua orang tanpa pandang bulu.
Stien adalah yang paling dewasa dan tenang diantara kami berempat, paling bisa menyembunyikan perasaannya yang meluap-luap penuh kebahagiaan. Dia adalah orang yang paling sibuk bertanya ‘jadi, kapan neh?’, ternyata dia menyimpan seorang laki-laki Belanda di hatinya [pasti hasil liburan selama beberapa bulan di Eropa 2 tahun lalu, hahahaha....]. Stien yang rela bolak-balik Makassar-Toraja selama 7 jam mengantarkan insulin untuk ayahnya saat ini belum beruntung soal pekerjaan alias pengangguran. I can see she’s so stress right now, tapi Stien selalu bisa mengatasi tampilan wajahnya, dia orang yang santai menghadapi waktu dan tuntutan hidup.
Asni is the smartest, sekarang lanjut S2 hukum dan masih tenggelam dengan segala kesibukannya sebagai mahasiswi pasca. Single. Penampilannya mulai berubah tanpa kacamata botol itu...hahaha...kacamatanya paling tebal diantara kami bertiga; Stien mulai pake contact lense biru sesuai seleranya akan bule; Udha mulai pakai polo sejak setahun terakhir dan rajin check up di Orbita; and aku masih menghadapi iritasi mataku yang nggak kunjung sembuh dengan resep dokterku: tetes mata 5x sehari dan salep 3x sehari, plus kacamata gaya untuk menghindari angin polusi nempel ke mataku.
Kehidupanku dan Asni nggak jauh berbeda, single dan tetap menyibukan diri untuk menghindari kesepian yang akan merenggut jiwa. Jadi, pada saat kami sibuk mencecar Udha dengan pertanyaan seputar pernikahan, di dalam hati masing-masing kami bertanya-tanya ‘kapan gue ketemu jodoh ya?’ [hahahaha....]
Kami berjanji saling mengunjungi dan berkumpul seperti ini lagi suatu hari nanti [waktunya tidak pernah direncanakan]. Sore itu, setelah bergosip selama 4 jam sampai suasana dan orang-orang di sekitar kami berubah, akhirnya kami saling mencium pipi dan mengucapkan perpisahan sampai waktu yang tidak ditentukan. So, this sisterhood nggak akan pernah putus dan kami akan tetap menjadi sahabat.

Penantian Ramdan

Ramdan menangis karena cinta
Kekasih yang dinanti tak kunjung meminta
Air mata bergulir untuk menetralisir rasa

Ramdan menanti dengan penuh cinta
Berharap sang kekasih kan segera tiba
Menyematkan cincin pernikahan mereka

"semua akan terasa lebih indah pada waktunya"

 
Abby © 2008. Design by Pocket Blogger Templates