Pagi ini aku memiliki komplikasi di kepalaku...
Obrolan bersama Indah tadi malam masih melekat, dan gak tau kenapa tiba-tiba semua pemikiran itu berubah menjadi rasa muak dalam perutku.
Pernikahan...dua temanku menikah minggu ini. Keduanya sudah dokter dan sedang berburu pekerjaan yang tidak berjauhan dengan suami masing-masing.
Tadi malam, aku masih bisa ketawa-ketiwi dengan Indah...mengarang tentang pernikahan kami...
"Kira-kira sama siapa ya aku menikah nanti?"
Indah menimpali, "Din, nanti kalo kamu nikah, aku mau datang ke Bontang. Pokoknya yang jauh-jauh mau kudatangi."
Sambil tertawa aku menjawab, "Cuman modal seragam kebaya kan?" Lalu kami berdua ketawa...tradisi seragam kebaya itu sudah mendarah daging di angkatanku, bahkan salah satu temanku ada yang mengoleksi kebaya pembagian dari teman-teman yang sudah menikah. Membuktikan kalau dia gaul and always being a bridesmaid.
Komplikasinya datang pagi ini saat aku bermain game di komputer.
Saat itu terlintas pemikiran tentang seorang teman yang usianya lebih muda dariku dan akan menikah bulan Januari nanti. Aku pernah dikenalkan dengan calon suaminya, laki-laki yang usianya lebih muda 2 tahun dari calon istrinya. Waktu aku mengajaknya bersalaman, dia hanya mengatupkan kedua tangannya di dada, tanda dia ada seorang ikhwan [pria muslim alias primus], well, akhirnya aku tahu rasanya ditolak berjabat tangan dengan seorang laki-laki semacam ini. laki-laki yang katanya "gak sembarangan menyentuh perempuan" [aku pernah memacari salah satunya beberapa tahun silam, and it's all just a cover].
Then I'm thinking...
This kind of guy..a 'moslem' guy..menginginkan istrinya selalu ada di dalam rumah dan melayaninya. Kalau begitu, ngapain ya perempuan sekolah tinggi-tinggi sampai jadi dokter kalau in the end, the husband gonna keep her in the house?? BIG question. Emang, gak semua menerapkan prinsip seperti itu, but some of them does.
Perempuan seperti sesuatu yang sangat ketergantungan pada laki-laki, menghamba kepada suaminya, karena suaminya kini yang mengambil alih tanggung jawab orang tuanya. Is this the reason why some 'independent' women never want to get married? Karena dia tidak lagi membutuhkan seorang laki-laki untuk bergantung dan mengatur hidupnya? Bagaimana dengan laki-laki yang menginginkan perempuannya mandiri, sampai batas mana perempuan itu harus mandiri?
Seorang perempuan selalu menghadapi dilema, harus memilih peran.
Lalu...
Ada sebuah kisah nyata, dari seorang pasien yang dirawat di bangsal interna akibat komplikasi hipertensi dan diabetes mellitus. seorang ibu dari 2 anak dan seorang istri dari suami yang sudah menikah lagi. Lihat kan dimana bagian gak adilnya?
Sekarang, ibu ini sudah meninggal. Secara pribadi, aku berkesimpulan bahwa sang suami adalah pembunuhnya, dan mungkin keputusasaannya sebagai seorang perempuan juga membunuhnya. Perempuan ini menghadapi detik-detik terakhir yang sulit, ia tak dapat melepaskan nyawanya dengan rela, harus menderita selama beberapa jam untuk memaafkan. Dari sinilah cerita yang dialaminya beredar.
Ibu ini sudah mengetahui diagnosis dokter tentang penyakitnya [penyakit yang membutuhkan gaya hidup sehat untuk meredamnya]. Dalam kasus ini, faktor psikologis adalah pemicu kematiannya. Sang suami menikah lagi dengan sahabat dekatnya. Lalu perempuan ini mulai membiarkan dirinya menjadi bodoh, tak menjaga diri dari penyakitnya, sampai akhirnya terbaring lemah selama berminggu-minggu di rumah sakit. Selama itu pula, tak sekalipun sang suami datang menjenguk, sampai hari terakhir saat perempuan ini bernapas dengan berat dan terputus-putus. Berusaha merelakan nyawanya tapi ia sulit memaafkan.
I lost my words in this.
Laki-laki bisa seenaknya saja meninggalkan istrinya, menikah lagi, meskipun setiap sel dalam tubuhnya menyadari kalau dia akan menyakiti hati perempuan yang berusaha setiap hari melayaninya segenap hati.
Kalau sudah memahami tanggung jawab sebagai suami, janganlah beranggapan istri adalah suatu beban, atau meninggalkannya untuk meringankan beban. Dan hei, kamu laki-laki yang lain...jangan pernah bilang "suami seperti itu bersalah dan akan mendapatkan hukumannya." NO!! dont you ever said that and make yourself any different than him. Because you have to learn from this event. And hey husbands!! dont you ever leave your wife when she needed you the most.
Kamu menginginkan setiap jiwa dan raga istrimu untuk dirimu sendiri, maka jagalah dengan baik. Perempuan menghadapi dilema dan selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata suami dan Tuhannya. Seorang perempuan akan mendampingi suaminya saat terbaring lemah di rumah sakit, memenuhi segala permintaannya meskipun sang suami meneriakinya dengan kasar.
Dont you ever let her down!
Komplikasi yang membingungkan di pagi hari. Why would i think about this anyway..
but we have to learn from this.
Desember 14, 2009
November 24, 2009
Datang Dengan Kejutan
November 24, 2009
Aku menyimpan uang sakuku untuk membeli sebuah tiket, makassar-jakarta dari penerbangan manapun yang paling murah. Aku atidak akan memberitahumu karena ini adalah KEJUTAN.
Kubeli sebuah kotak besar untuk hadiah kejutanku, aku memilih kotak bergambarkan hati yang paling banyak, lalu kutambahkan pita berwarna hijau yang kamu sukai.
Aku akan menghantarkannya langsung di depan pintumu, bersama senyumku yang paling manis.
Berharap-cemas menunggu pesawatku mendarat di bandara soekarno-hatta, tidak akan ada seorang pun yang menjemputku seperti biasa. Kali ini aku sendiri menaiki bis yang membawaku beberapa langkah lebih dekat denganmu.
Aku memakai baju baru yang pastinya akan kau sukai saat melihatnya, bersama sepatu sandal baru berwarna hitam yang cantik di kakiku. Kamu akan menyukainya juga.
Ku ketuk pintu rumahmu, mengintip di sela-sela gorden hijau muda penuh bunga-bunga kecil. Sepi dan gelap.
Aku menunggu beberapa menit, berharap mendengar kakimu menaiki tangga. Pulang.
Hatiku mulai cemberut, ku putar-putar handphone di tanganku, inilah saatnya memberitahumu bahwa aku berdiri di depan pintumu.
Hatiku mulai cemberut. Kotak bergambar hati paling banyak yang kupegang mulai basah karena air mataku menetesinya. Kecewa.
Aku memutuskan untuk pulang tanpa menunggu balasan smsku.
Kotak bergambar hati paling banyak itu akan kusimpan. Tak akan pernah kuberikan padamu.
It will live in the furthest corner to embarrass me.
Kubeli sebuah kotak besar untuk hadiah kejutanku, aku memilih kotak bergambarkan hati yang paling banyak, lalu kutambahkan pita berwarna hijau yang kamu sukai.
Aku akan menghantarkannya langsung di depan pintumu, bersama senyumku yang paling manis.
Berharap-cemas menunggu pesawatku mendarat di bandara soekarno-hatta, tidak akan ada seorang pun yang menjemputku seperti biasa. Kali ini aku sendiri menaiki bis yang membawaku beberapa langkah lebih dekat denganmu.
Aku memakai baju baru yang pastinya akan kau sukai saat melihatnya, bersama sepatu sandal baru berwarna hitam yang cantik di kakiku. Kamu akan menyukainya juga.
Ku ketuk pintu rumahmu, mengintip di sela-sela gorden hijau muda penuh bunga-bunga kecil. Sepi dan gelap.
Aku menunggu beberapa menit, berharap mendengar kakimu menaiki tangga. Pulang.
Hatiku mulai cemberut, ku putar-putar handphone di tanganku, inilah saatnya memberitahumu bahwa aku berdiri di depan pintumu.
Hatiku mulai cemberut. Kotak bergambar hati paling banyak yang kupegang mulai basah karena air mataku menetesinya. Kecewa.
Aku memutuskan untuk pulang tanpa menunggu balasan smsku.
Kotak bergambar hati paling banyak itu akan kusimpan. Tak akan pernah kuberikan padamu.
It will live in the furthest corner to embarrass me.
Oktober 30, 2009
“Public Love Affair”
Oktober 30, 2009
Terminal 3 Soekarno-Hatta Airport, sometimes in July 2009.
Penerbangan Air Asia yang kutumpangi tiba di Jakarta sekitar jam 8 malam. Saat turun dari pesawat, ada rasa membuncah di dadaku, aku akan bertemu dengannya. Lagi. Dia menjemputku.
Saat keluar dari pintu kedatangan, aku tak melihat sosoknya, tapi sms yang dia kirim saat aku masih berada di pesawat mengatakan kalau dia sudah di perjalanan ke bandara. “Hari jumat, Jakarta selalu macet” pikirku.
Suasana terminal 3 yang masih asing bagiku membuat mataku mencari-cari di kerumunan para penjemput. I can’t find him, but sure he’ll finds me. Itu dia, berjalan ke arahku saat aku keluar dari pagar batas para penjemput. Dia menciumku, seperti biasa. Rutinitas yang selalu kami lakukan saat bertemu, tak peduli saat itu kami ada di tempat umum. It’s called “Public Love Affair”.
Selama menunggu Xtrans [bus ‘elit’ yang mengeluarkan ongkos sedikit], aku tak bisa berhenti menciumnya, tangannya terus saja memeluk pinggangku dan aku tak bisa mengendalikan bibirku untuk tidak menyentuhnya. Padahal baru 2 minggu yang lalu kami bertemu, di Jakarta, tapi rasa rinduku tak terbendung. Saat Xtrans datang, kami melanjutkan acara ‘tempel bibir’ di dalam bus yang hanya berisikan 5 orang, termasuk kami dan supir.
Isn’t love is great when it come to beautiful things, such as make out? Menggelikan, tapi kegiatan ini sudah kami lakukan sejak pertama kali bertemu. And we just couldn’t stop.
That night is the happiest moment, aku datang untuk merayakan ulang tahunku bersamanya besok malam, tapi bagiku, bukan itu yang menjadi inti kedatanganku. Aku terlalu merindukannya.
Telepon berjam-jam, ongkos pesawat yang mahal, dan public love affair...
I miss all of that...much worse than it ever been.
Penerbangan Air Asia yang kutumpangi tiba di Jakarta sekitar jam 8 malam. Saat turun dari pesawat, ada rasa membuncah di dadaku, aku akan bertemu dengannya. Lagi. Dia menjemputku.
Saat keluar dari pintu kedatangan, aku tak melihat sosoknya, tapi sms yang dia kirim saat aku masih berada di pesawat mengatakan kalau dia sudah di perjalanan ke bandara. “Hari jumat, Jakarta selalu macet” pikirku.
Suasana terminal 3 yang masih asing bagiku membuat mataku mencari-cari di kerumunan para penjemput. I can’t find him, but sure he’ll finds me. Itu dia, berjalan ke arahku saat aku keluar dari pagar batas para penjemput. Dia menciumku, seperti biasa. Rutinitas yang selalu kami lakukan saat bertemu, tak peduli saat itu kami ada di tempat umum. It’s called “Public Love Affair”.
Selama menunggu Xtrans [bus ‘elit’ yang mengeluarkan ongkos sedikit], aku tak bisa berhenti menciumnya, tangannya terus saja memeluk pinggangku dan aku tak bisa mengendalikan bibirku untuk tidak menyentuhnya. Padahal baru 2 minggu yang lalu kami bertemu, di Jakarta, tapi rasa rinduku tak terbendung. Saat Xtrans datang, kami melanjutkan acara ‘tempel bibir’ di dalam bus yang hanya berisikan 5 orang, termasuk kami dan supir.
Isn’t love is great when it come to beautiful things, such as make out? Menggelikan, tapi kegiatan ini sudah kami lakukan sejak pertama kali bertemu. And we just couldn’t stop.
That night is the happiest moment, aku datang untuk merayakan ulang tahunku bersamanya besok malam, tapi bagiku, bukan itu yang menjadi inti kedatanganku. Aku terlalu merindukannya.
Telepon berjam-jam, ongkos pesawat yang mahal, dan public love affair...
I miss all of that...much worse than it ever been.
Agustus 12, 2009
Kangen
Agustus 12, 2009
Autumn...farewell party at the Indonesian Embassy, Berlin.
Tamu-tamu berjas rapi dan rambut klimis mengkilat mulai berdatangan sejak jam 6 sore, para staf duta besar menyambut mereka dengan uluran salam hangat setelah para tamu menyerahkan undangan. Pesta sederhana itu ditujukan untuk kalangan terbatas.
Di salah satu sofa sudut remang-remang dipenuhi 7 orang laki-laki berkebangsaan Indonesia yang sedang membunuh dingin dengan minum wine sebanyak-banyaknya. Mereka tertawa lepas sambil menenggak air berwarna kuning terang dalam gelas yang dipegangnya. Tak ada larangan ataupun kesungkanan.
Sang duta besar mulai memperkenalkan satu per satu tamu kebesarannya kepada mereka, berbicara sejenak lalu sang tamu meninggalkan tempat itu untuk bersosialisasi.
Sang duta besar menghampiri mereka kembali, memperkenalkan anaknya bersama seorang wanita, tawa berkurang, berubah menjadi senyuman.
“Kalian sudah kenal Erik, tapi belum kenal dokter dokter giginya, iya kan?.” Sang duta besar tersenyum mempersilahkan perempuan bergaun hitam itu berkenalan dengan ketujuh tamunya. Salah satu dari tujuh pria itu enggan bersalaman, tapi ia tetap melakukannya.
Malam semakin larut, alkohol mulai mengisi setiap senti pembuluh darah. Pesta sederhana itu kian meriah saat musik memenuhi ruangan, para tamu menggoyangkan tubuhnya di bawah pengaruh alkohol. Panas mulai menjalar sampai ke ubun-ubun.
Perempuan bergaun hitam yang memperkenalkan dirinya sebagai Rhea hanya duduk di meja bar, menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, tangannya memegang segelas orange juice. Ia sesekali tersenyum saat melihat ada tamu yang berjoget dengan gaya aneh.
“Kenapa gak ikutan turun juga?” Tegur laki-laki yang tadi enggan berkenalan dengannya.
“My heels killing me.” Jawabnya sambil tertawa geli. Laki-laki itu duduk di sebelah dan memesan segelas orange juice.
“Kamu ngapain disini Re?” Abimanyu itu memandang lekat wanita di sampingnya. “Diundang pesta.”
“Bukan, maksudku...kamu ngapain di Jerman?”
“Oo, sekolah.” Jawaban-jawaban singkat dan datar mulai membuat laki-laki itu jengah, tapi ia menahan diri dan memesan segelas wine.
“Udah berapa lama kamu di sini?” Rhea menoleh dengan pandangan yang menurut laki-laki itu menyakitkan.
“Aku mau ikutan dance. Ayo.” Rhea beranjak dari kursi bulatnya dan mulai menggoyangkan tubuh sensualnya yang terbalut longdress hitam pendek.
Beberapa menit kemudian, Rhea telah tenggelam dalam alunan musik dance yang memacu jantungnya. Tak lagi merasakan pegal di kaki, ia hanya ingin menggerakkan tubuhnya. Tiba-tiba, ia merasakan pelukan halus di pinggangnya dan seseorang menciumi lehernya. Ia mengenali parfum ini, Bvlgari aqua, Rhea terlarut sejenak sampai akhirnya ia menolak.
“Bi, apaan sih lo?!”
“Kenapa Re? Dulu kamu suka dipeluk seperti ini.” Bisik Abimanyu ditelinganya, Rhea melepaskan diri, menolaknya kasar.
* * *
Aroma kopi pagi hari membuat Abimanyu terbangun. Kepalanya terasa sangat berat dan badannya pegal-pegal. Entah bagaimana ia bisa berada di atas tempat tidurnya dan berselimut nyaman. Ia mulai mengangkat tubuhnya, menyelidiki siapa yang telah menyediakannya sarapan pagi di meja.
“Anj***! Gue kelewatan lagi.” Gerutunya.
Abimanyu menghabiskan beberapa menit untuk mengamati longdress hitam yang tergantung di pintu lemari bajunya, dan tas pesta berwarna hitam yang tergeletak di meja kerjanya. Otaknya, yang mulai pulih dari pengaruh alkohol, berpikir siapa pemilik gaun itu. ia tak dapat mengingat apa yang telah terjadi tadi malam di pesta.
Terdengar bunyi senandung dari arah dapur. Isi otak Abimanyu mulai berkecamuk. Kalau ia membawa seorang wanita pulang, mengapa ia tak menyadarinya? Pelan-pelan, Abimanyu meletakkan gelas kopinya di meja dan beranjak ke dapur.
Wanita itu memakai kaos hijau kepanjangan menutupi separuh paha, dan mengikat rambutnya sembarangan. Kepalanya mengangguk-angguk sambil bersenandung kecil.
Abimanyu mendekati, melingkarkan tangannya pelan di pinggang, dan meletakkan dagunya di atas bahu wanita itu. Wanita itu tersentak.
“Bi, apa-apaan sih!!” Rhea berusaha mengusir Abimanyu. “Bi!!”
“I miss you, Re.” Pelukan Abimanyu semakin erat, Rhea berhenti meronta. Ia mematikan kompor gas di depannya, tapi tak berani membalikkan tubuhnya.
Mereka terdiam...
Perlahan, Abimanyu membalik tubuh Rhea, agar berhadapan dengannya.
Rhea melingkarkan tangannya di leher Abimanyu meskipun kakinya harus berjingkat.
Diawali dengan pelukan erat selama beberapa menit, lalu berciuman..
And the story goes...
Tamu-tamu berjas rapi dan rambut klimis mengkilat mulai berdatangan sejak jam 6 sore, para staf duta besar menyambut mereka dengan uluran salam hangat setelah para tamu menyerahkan undangan. Pesta sederhana itu ditujukan untuk kalangan terbatas.
Di salah satu sofa sudut remang-remang dipenuhi 7 orang laki-laki berkebangsaan Indonesia yang sedang membunuh dingin dengan minum wine sebanyak-banyaknya. Mereka tertawa lepas sambil menenggak air berwarna kuning terang dalam gelas yang dipegangnya. Tak ada larangan ataupun kesungkanan.
Sang duta besar mulai memperkenalkan satu per satu tamu kebesarannya kepada mereka, berbicara sejenak lalu sang tamu meninggalkan tempat itu untuk bersosialisasi.
Sang duta besar menghampiri mereka kembali, memperkenalkan anaknya bersama seorang wanita, tawa berkurang, berubah menjadi senyuman.
“Kalian sudah kenal Erik, tapi belum kenal dokter dokter giginya, iya kan?.” Sang duta besar tersenyum mempersilahkan perempuan bergaun hitam itu berkenalan dengan ketujuh tamunya. Salah satu dari tujuh pria itu enggan bersalaman, tapi ia tetap melakukannya.
Malam semakin larut, alkohol mulai mengisi setiap senti pembuluh darah. Pesta sederhana itu kian meriah saat musik memenuhi ruangan, para tamu menggoyangkan tubuhnya di bawah pengaruh alkohol. Panas mulai menjalar sampai ke ubun-ubun.
Perempuan bergaun hitam yang memperkenalkan dirinya sebagai Rhea hanya duduk di meja bar, menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, tangannya memegang segelas orange juice. Ia sesekali tersenyum saat melihat ada tamu yang berjoget dengan gaya aneh.
“Kenapa gak ikutan turun juga?” Tegur laki-laki yang tadi enggan berkenalan dengannya.
“My heels killing me.” Jawabnya sambil tertawa geli. Laki-laki itu duduk di sebelah dan memesan segelas orange juice.
“Kamu ngapain disini Re?” Abimanyu itu memandang lekat wanita di sampingnya. “Diundang pesta.”
“Bukan, maksudku...kamu ngapain di Jerman?”
“Oo, sekolah.” Jawaban-jawaban singkat dan datar mulai membuat laki-laki itu jengah, tapi ia menahan diri dan memesan segelas wine.
“Udah berapa lama kamu di sini?” Rhea menoleh dengan pandangan yang menurut laki-laki itu menyakitkan.
“Aku mau ikutan dance. Ayo.” Rhea beranjak dari kursi bulatnya dan mulai menggoyangkan tubuh sensualnya yang terbalut longdress hitam pendek.
Beberapa menit kemudian, Rhea telah tenggelam dalam alunan musik dance yang memacu jantungnya. Tak lagi merasakan pegal di kaki, ia hanya ingin menggerakkan tubuhnya. Tiba-tiba, ia merasakan pelukan halus di pinggangnya dan seseorang menciumi lehernya. Ia mengenali parfum ini, Bvlgari aqua, Rhea terlarut sejenak sampai akhirnya ia menolak.
“Bi, apaan sih lo?!”
“Kenapa Re? Dulu kamu suka dipeluk seperti ini.” Bisik Abimanyu ditelinganya, Rhea melepaskan diri, menolaknya kasar.
* * *
Aroma kopi pagi hari membuat Abimanyu terbangun. Kepalanya terasa sangat berat dan badannya pegal-pegal. Entah bagaimana ia bisa berada di atas tempat tidurnya dan berselimut nyaman. Ia mulai mengangkat tubuhnya, menyelidiki siapa yang telah menyediakannya sarapan pagi di meja.
“Anj***! Gue kelewatan lagi.” Gerutunya.
Abimanyu menghabiskan beberapa menit untuk mengamati longdress hitam yang tergantung di pintu lemari bajunya, dan tas pesta berwarna hitam yang tergeletak di meja kerjanya. Otaknya, yang mulai pulih dari pengaruh alkohol, berpikir siapa pemilik gaun itu. ia tak dapat mengingat apa yang telah terjadi tadi malam di pesta.
Terdengar bunyi senandung dari arah dapur. Isi otak Abimanyu mulai berkecamuk. Kalau ia membawa seorang wanita pulang, mengapa ia tak menyadarinya? Pelan-pelan, Abimanyu meletakkan gelas kopinya di meja dan beranjak ke dapur.
Wanita itu memakai kaos hijau kepanjangan menutupi separuh paha, dan mengikat rambutnya sembarangan. Kepalanya mengangguk-angguk sambil bersenandung kecil.
Abimanyu mendekati, melingkarkan tangannya pelan di pinggang, dan meletakkan dagunya di atas bahu wanita itu. Wanita itu tersentak.
“Bi, apa-apaan sih!!” Rhea berusaha mengusir Abimanyu. “Bi!!”
“I miss you, Re.” Pelukan Abimanyu semakin erat, Rhea berhenti meronta. Ia mematikan kompor gas di depannya, tapi tak berani membalikkan tubuhnya.
Mereka terdiam...
Perlahan, Abimanyu membalik tubuh Rhea, agar berhadapan dengannya.
Rhea melingkarkan tangannya di leher Abimanyu meskipun kakinya harus berjingkat.
Diawali dengan pelukan erat selama beberapa menit, lalu berciuman..
And the story goes...
One Table
I was at the coffee shop in one blue afternoon...
A stranger came in, rang the door bell.
He ordered a black hot coffee with no sugar,
He pulled a chair and sat right in front of me.
But, we didn’t spoke any words,
After a while he gave me a piece of white tissue and a smile, then he left.
There’s a few words writen on it...
“What i want you to remember is my smile.”
A smile can erase every hurtful thoughts inside your heart.
A smile can make you falling in love in a second without notice.
A smile brought me back here at the coffee shop every afternoon.
But I never see you again...you’re gone.
I will always remember the note you gave me.
Agustus 11, 2009
Dalam Angkot
Agustus 11, 2009
Dalam sebuah angkot..
Seorang anak kecil berusia duduk di antara dua wanita gemuk berambut ikal yang bau keringat menyengat..di tangannya terdapat bekas tato narapidana.
Di tengah bungkam tanpa suara, si gadis kecil mulai melafazkan surat al-fatihah seorang nenek tua yang duduk di depannya mulai ikut bersuara, mengikutinya.
Gadis kecil itu mengaku, baru menghapalkan surat itu tadi malam, jadi ia harus terus melatihnya sampai pintar. Rupanya darah narapidana yang mengalir dalam tubuhnya tak menurun secara genetik. Gadis kecil itu tetap terbebas dari dosa orang tuanya.
Kagumku untukmu gadis kecil...
Seorang anak kecil berusia duduk di antara dua wanita gemuk berambut ikal yang bau keringat menyengat..di tangannya terdapat bekas tato narapidana.
Di tengah bungkam tanpa suara, si gadis kecil mulai melafazkan surat al-fatihah seorang nenek tua yang duduk di depannya mulai ikut bersuara, mengikutinya.
Gadis kecil itu mengaku, baru menghapalkan surat itu tadi malam, jadi ia harus terus melatihnya sampai pintar. Rupanya darah narapidana yang mengalir dalam tubuhnya tak menurun secara genetik. Gadis kecil itu tetap terbebas dari dosa orang tuanya.
Kagumku untukmu gadis kecil...
Maret 07, 2009
False-negative Love
Maret 07, 2009
Sebuah sedan mewah berhenti di depan kompleks rumah kost nomor B20, seorang perempuan keluar membanting pintu keras-keras, marah. Mulutnya komat-kamit mengucapkan kalimat serapah yang tak terdengar oleh telinga manusia normal.
Di dalam kamar kosnya ia melempar keluar barang-barang yang pernah diberikan oleh pemilik sedan mewah itu, seorang pria kaya beristri yang selalu bersikap sopan kepadanya. Malam ini, ia memutuskan hubungan mereka.
Dua minggu yang lalu, saat sedang bercumbu dalam kamar kosnya, ia merasa sangat nyaman dan bahagia. Ternyata, laki-laki beristri ini mencintainya, dan dari sekian banyak laki-laki kaya beristri lainnya, hanya pria inilah yang menarik hatinya dan membuatnya berpikir “jika ia melamarku menjadi istri keduanya, aku bersedia”.
Perempuan itu pernah berkata, “Ada perbedaan yang signifikan antara dicintai oleh seorang laki-laki lajang dengan laki-laki beristri. Kasih sayang laki-laki beristri terasa sangat nyata dan tulus, dibandingkan dengan laki-laki lajang yang cenderung hanya memanfaatkan dan tidak mencintai sepenuh hati.” Kesimpulan itu diperolehnya setelah berciuman hot dengan seorang dokter beristri, yang menurutnya sangat berpengalaman, sangat berbeda dengan ciuman pemuda lajang yang belum pernah menikah, seliar apapun ia.
Kisah dua minggu lalu dan kesimpulan itu mentah kembali akibat peristiwa malam ini yang membuat perempuan itu marah besar. Laki-laki beristri itu tak pernah punya niat menjadikannya istri kedua karena ia sangat menyayangi istrinya yang sekarang dan ia berpikir tentang karir dan nama baik mereka berdua yang akan hancur jika berselingkuh seperti ini. Sebuah pemikiran logis dan egois seorang lelaki.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang panas akibat amarah, perempuan itu masih mengharapkan laki-laki beristri itu akan berubah pikiran. Ia tetap mengharapkan cinta, meskipun itu terlarang.
Think, Not Blink !
Tiara adalah nama seorang perempuan berparas cantik yang saat ini sedang duduk di hadapanku. Terus terang, selama menjadi sahabatnya, aku tak pernah bisa menebak apa yang ada dalam kepalanya, pemikirannya selalu berubah. Dalam hitungan menit, pendapatnya dapat berubah secara signifikan. Ia memintaku untuk tidak membocorkan hal ini, sebagai seorang sahabat tentu aku tak akan mengatakannya kepada siapapun, tapi aku berkata padanya “aku akan menuliskannya untukmu”. Kenapa aku melakukannya? Apakah aku masih menjadi sahabat yang dapat dipercaya? Beyond that questions, I simply want people and other smart girls out there to see that this story which I’m about to tell you is real and it’s happened. Bukan sekedar cerpen atau cerita sinetron yang mengada-ada.
So, read carefully, intreprete it with logics and soulful heart...
Tiara adalah gadis tinggi semampai berambut coklat, berkulit kuning langsat, bertubuh sintal dan menarik, ia telah menikah selama 5 tahun sejak lulus SMA, kini usianya sudah 26 tahun namun belum dikarunia seorang anak. Sejauh ini ia beranggapan dapat menerima bahwa suami yang ia cintai adalah seorang impoten.
Suaminya membelikan Tiara sebuah ruko dan peralatan salon, karena istri tercintanya sangat suka berdandan dan memang terampil. Paling tidak, Tiara memiliki sesuatu untuk dikerjakan di rumah selain menunggu suaminya pulang kerja jam 5 sore setiap hari. Pada awal pernikahan, kehidupan mereka baik-baik saja, salon yang didirikan Tiara mulai banyak peminatnya, termasuk para tante girang dan om-om gatal bermobil mewah. Ia pun mulai mempelajari cara bergaul dengan kaum elite tersebut.
Beberapa tahun berlalu, kebosanan mulai melanda, sepi, tak ada canda tawa yang menghiasi rumah toko itu. Tiara mulai berpikir untuk mencari kesenangan di luar, mulai memanfaatkan aktivitas salonnya untuk berselingkuh dari sang suami. Melayani om-om gatal bermobil mewah di belakang suaminya, ia mulai lupa bahwa ia memiliki seorang suami yang membanting tulang dan melindungi kehidupannya setiap detik. Ia tenggelam dalam pergaulan mewah, hanya untuk sekedar memanfaatkan uang dan menikmati seks terlarang.
Tiara mulai tak terkendali, kini ia hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Tanpa anak yang membebaninya. Suaminya mulai ringan tangan dan menghajarnya setiap kali ia pulang larut malam setelah ber-dugem ria bersama om-om kaya. Tiara hanya menangis sebentar lalu melakukannya lagi, tanpa tujuan. Ia pun mulai tak menginginkan kehadiran seorang anak.
Di dalam hatinya, perempuan ini tak ingin menyesali telah menikahi seorang laki-laki impoten, karena ia mencintai suaminya. Di sisi lain, ia membutuhkan nafkah batin yang dapat menyempurnakan hidupnya, mengisi rongga tubuhnya yang kosong. Dilema seorang perempuan yang diharuskan setia, suatu perbedaan gender dalam norma yang membela posisi laki-laki.
Miris melihat sahabatku menjadi pelaku perselingkuhan semacam ini. Sebagai seorang istri, aku yakin seorang wanita dibekali kemampuan ikhlas dan sabar yang luar biasa untuk menerima kekurangan suaminya. Tapi apa yang terjadi jika kesabaran itulah yang membuatnya menyesal? Haruskah menyesal telah menikahi laki-laki yang kita cintai? Apakah itu tandanya kita tak sungguh-sungguh mencintainya?
The deed is done, and this is what happened.
Maret 03, 2009
On peur mais on etait heureux
Maret 03, 2009
Aku hampir membalikkan badan dan melarikan diri dari bandara saat menyadari aku berdiri di depan pintu kedatangan. Aku melihatnya meragu saat ingin keluar dari pintu, sampai akhirnya aku memberanikan diri sms [senormal mungkin, menyuruhnya keluar] sebelum berubah pikiran lagi.
And there he goes...outside the gate, melihatku, tersenyum padaku, memelukku, mengecup pipiku [yang membuatku menghindar dan salah tingkah].
Aku merindukannya seperti keakraban ini sudah berlangsung sangat lama. Sepanjang jalan tol itu ia terus menggenggam tanganku.
Cerita pendek yang kutulis menjadi kenyataan. Unbelievably true.
I like the way he saying 'i love you'
I love when he said 'sorry' and can't stop kissing me
I like the way he making me feel being loved, so much
Saat aku melepasnya kembali di bandara, yang aku harapkan hanyalah waktu ini berputar kembali. Lebih lama. Lebih dekat dengannya.
So be it.
And there he goes...outside the gate, melihatku, tersenyum padaku, memelukku, mengecup pipiku [yang membuatku menghindar dan salah tingkah].
Aku merindukannya seperti keakraban ini sudah berlangsung sangat lama. Sepanjang jalan tol itu ia terus menggenggam tanganku.
Cerita pendek yang kutulis menjadi kenyataan. Unbelievably true.
I like the way he saying 'i love you'
I love when he said 'sorry' and can't stop kissing me
I like the way he making me feel being loved, so much
Saat aku melepasnya kembali di bandara, yang aku harapkan hanyalah waktu ini berputar kembali. Lebih lama. Lebih dekat dengannya.
I love him
So be it.
Februari 17, 2009
Mengikuti Arus Mimpi
Februari 17, 2009

Seorang teman yang kukenal cukup baik mencoba menjalani hidup seperti adanya, "berjalanlah mengikuti arus, jangan menentangnya." Sebenarnya apa yang membuat diri ini menentang arus? Apakah karena keinginan yang bertubi-tubi atau karena sebuah mimpi yang dianggap sebagai aktualisasi diri paling jujur?
Maka ia sering berkata "kita lihat saja nanti." Semuanya serba tak pasti, di saat orang lain menginginkan suatu kepastian, ia masih berpikir dan ragu, karena pada dasarnya ia hanya mengikuti arus yang mengalir dalam hidupnya. Ia tak punya kuasa untuk menentukan. Ia hanya menyerah pada aliran yang ia harapkan bisa membawanya mencapai angan dan mimpi, hanya memupuk sebuah harapan dengan kerja keras yang mengikuti arus.
Apakah mimpi-mimpinya telah tercapai?
Di Balik Tirai Kamarku

aku mengamati....
seorang laki-laki dari kejauhan, di balik tirai jendela berwarna putih
lima menit kuhabiskan untuk terpaku di depan jendela
aku mengamati...
seorang laki-laki dewasa, mungkin lebih tua sedikit dari aku
ia duduk bergumam sendiri di teras berlantai semen
aku bertanya sendiri...
apa yang ia pikirkan? matanya kosong tanpa beban
aku mengenali caranya memperhatikan jalanan kosong, sepertiku
laki-laki itu penderita epilepsi, aku yakin ia tak ingin dikasihani.
Februari 15, 2009
Room MakeoVer
Februari 15, 2009
Jadwalku kemaren nganterin ipeh ke RMC [Ratulangi Medical Center, red] buat nyari second opinion soal tonsilitis kronisnya, ternyata emang musti diangkat dua-duanya. dah rusak, fungsi kelenjarnya gak mungkin kembali, bahkan udah menyebar ke kerongkongannya. Kata dokter Qadar, "Tonsilnya udah rusak, gak mungkin kembali dan satu-satunya jalan emang musti diangkat. Kalo dibiarin terus begini akan jadi penyakit kambuhan dan bakterinya nyebar kemana-mana. Yang pasti, kerongkongan gak mungkin dioperasi." Aku membayangkan kalo ada yang namanya operasi kerongkongan pasti namanya bakal jadi 'esofagusektomi' hahaha...cute name.
So, this is the picture of si sakit nyonya ipeh en si pengantar nyonya dhini yang kurang tidur. Gila tu mata ngantuk abis.
And, this morning...begini nih tampangku lagi tidur. Udah dua minggu ini gak pernah tidur senyenyak ini. Fotonya sapa yang ngambil ya??

Gak tau kenapa, bangun tidur ini aku ngerasa kebebanin banget sama kondisi kamarku yang gak terurus selama sebulan terakhir. Bulan januari kemaren emang sibuk banget, even makan juga gak teratur dan setelah melihat jamur-jamur mulai menumbuhi stetoskop litmann-ku [tu barang satu harganya 600rb skarang] aku pun mulai berinisiatif untuk membersihkannya. mulai dari stetoskop nyebar ke meja belajar, en lemari beserta isinya. Akhirnya bersih dehhh....bebas jamur dan debu yang udah sebulan menemani hari-hari sibukku. no more jamur!! [gara-gara musim hujan, kamarku jadi lembab jadinya gampang jamuran dehh barang-barang sekitarnya. menyedihkan. hujan, cepatlah berakhir].



Hasil dari acara bersih-bersih hari ini adalah dua kantong laundry yang teronggok manis di samping tempat tidurku. I have to call the euro laundry to pick them up [jangan salah, dua kantong laundry itu belum apa-apa, masih ada seember baju yang sudah dicuci di kamar mandi tapi belum dijemur, gak tau kenapa males banget ngangkatnya ke jemuran].
Okay, maag-ku kambuh sekarang, udah mual-mual, I have to go find something to eat.
see ya...
So, this is the picture of si sakit nyonya ipeh en si pengantar nyonya dhini yang kurang tidur. Gila tu mata ngantuk abis.
And, this morning...begini nih tampangku lagi tidur. Udah dua minggu ini gak pernah tidur senyenyak ini. Fotonya sapa yang ngambil ya?? 
Gak tau kenapa, bangun tidur ini aku ngerasa kebebanin banget sama kondisi kamarku yang gak terurus selama sebulan terakhir. Bulan januari kemaren emang sibuk banget, even makan juga gak teratur dan setelah melihat jamur-jamur mulai menumbuhi stetoskop litmann-ku [tu barang satu harganya 600rb skarang] aku pun mulai berinisiatif untuk membersihkannya. mulai dari stetoskop nyebar ke meja belajar, en lemari beserta isinya. Akhirnya bersih dehhh....bebas jamur dan debu yang udah sebulan menemani hari-hari sibukku. no more jamur!! [gara-gara musim hujan, kamarku jadi lembab jadinya gampang jamuran dehh barang-barang sekitarnya. menyedihkan. hujan, cepatlah berakhir].



Hasil dari acara bersih-bersih hari ini adalah dua kantong laundry yang teronggok manis di samping tempat tidurku. I have to call the euro laundry to pick them up [jangan salah, dua kantong laundry itu belum apa-apa, masih ada seember baju yang sudah dicuci di kamar mandi tapi belum dijemur, gak tau kenapa males banget ngangkatnya ke jemuran].
Okay, maag-ku kambuh sekarang, udah mual-mual, I have to go find something to eat.
see ya...
Februari 01, 2009
At First Sight
Februari 01, 2009
Would I say I love him?
Kalau harus menjawabnya sekarang, I would say I dont know.
Aku sungguh-sungguh tidak tahu saat harus menghadapi kemanjaannya yang memaksa aku berkata ‘I love you’ saat dia meneleponku karena kangen dan terus menegaskan bahwa aku jatuh cinta padanya.
Tapi aku mencintainya saat dia memanggilku ‘sayang’ setiap kali mengangkat teleponku, aku mencintainya karena aku sungguh merasa nyaman mengetahui dia menyayangiku. Aku mencintainya saat ia membuatku terbahak-bahak di tengah malam buta mendengar ceritanya. Aku mencintainya karena ia bisa menjadi dewasa dan childish pada kondisi tertentu.
Apakah itu semua menunjukkan kalau aku mencintainya?Maybe. Jarak Jakarta-Bontang terlalu jauh untuk kami bertemu setiap hari dan mengungkapkan cinta [kalimat yang sering disalahartikan]. Jarak itu juga yang membuatku meragu saat ingin mengendapkan cintaku dalam-dalam untuknya. Aku belum mengenalnya dengan baik. Kehidupannya yang sebenarnya, and vice versa.
Honestly, I’ve never meet him. Hanya sekali melihatnya live on webcam dan berkali-kali [hampir tiap hari] chatting plus talking on the phone. Memang dasar hati, tak punya mata dan kepala, jatuh cinta pun tak terbendung.
Dan, mohon maaf kalau bahasaku campur aduk. Terkadang, aku lebih fasih dan nyaman menggunakan bahasa Inggris. Dalam tes IQ, kemampuan berbahasaku sangat tinggi, tapi giliran tes bahasa Indonesia, nilainya paling rendah diantara semua tes yang dilakukan, termasuk tes kemampuan abstrak dan bahasa asing.
Okay, love on the net is not really a guarantee that he really loves you. Bahkan, diragukan oleh orang-orang sekitarku yang mengatakan “jangan buang-buang hatimu untuk mencintai orang yang belum pernah kamu temui”
“Yaa...gue udah jatuh cinta aja, mau gimana lagi?” Jawaban khasku saat teman-teman dekatku meragukan rasa sayangnya kepadaku. Well, they just wanna protect me from hurting, you know.
Mmm....yang namanya jatuh cinta, nyata ataupun maya, tetap saja membuat hatimu berbunga-bunga. Kalau dalam film India, sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta akan berlari-lari di kebun bunga lalu bernyanyi dan menari mengungkapkan cinta. Saat lagu berakhir, barulah kembali ke realita. Kira-kira seperti itu.
Aku dan Ali akan menapaki kenyataan saat kami bertemu. When the meet cute finnally ours.
* * *
Siang ini Sepinggan terlihat lengang, aktivitas lebih banyak terjadi di sekitar pintu masuk keberangkatan. Hanya ada beberapa orang lalu-lalang di sekitar ruang tunggu terminal kedatangan. Aku mulai bosan memelototi layar besar yang menguraikan jadwal kedatangan. Tertulis di situ, kedatangan pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta tertunda. Menyebalkan!
Beberapa menit lalu, Ali menelponku
“Bi, pesawatnya ditunda sampai jam 5. Sabar ya Bi.” Seharusnya dunia tahu, aku bukanlah tipe orang penyabar. Patients is a skill and I dont have that kind of skill.
“Ya udah deh, Abi tunggu di Bandara aja.” Aku mulai mengambil napas panjang dan melepaskannya bersama kekesalanku.
Seharusnya aku tahu kalau pesawat di jaman sekarang ini tidak ada yang on time. Kalau saja aku menganut sistem itu, aku tidak akan bangun subuh dan menyetir sendiri selama 5 jam untuk menjemput kekasih mayaku itu.
Yup! This is the day when the meet cute is really going to happen.
Satu menit...dua menit...lima menit...Duduk di ruang tunggu membuatku kesal. Akhirnya aku beralih ke coffee shop di samping tangga yang menuju ke waving terminal di lantai 2. Berharap sepotong kue manis dan iced capuccino bisa membuatku melupakan kekesalan.
Handphone di saku jeansku berdering dan bergetar singkat. Tanda sms masuk.
From: Dokter Ikan Abi [0812964xxxx]
Lg ngapain, Bi? G lagi marah2 kan?
Manusia yang satu ini seperti sudah mengenalku sejak 10 tahun lalu. Atau dia memiliki teropong bulan yang bisa mendeteksi setiap gerak-gerikku?
To: Dokter Ikan Abi [0812964xxxx]
G kok, Abi lg ngopi. Abi sangat SABAR.
Tak lama terdengar dering dan getar panjang. Nama Dokter Ikan Abi muncul di layar besar blackberry-ku.
“Halo.” Jawabku singkat dengan muka cemberut yang tak bisa dilihatnya.
“Abi kalo lagi kesel tambah cantik deh. Tapi gak pake cemberut gitu dong, sayang.”
“Abi gak cemberut kok. Sok tau.” Terdengar tawa renyah dari seberang telepon. Suasana di latar belakangnya terdengar riuh. Aku menduga, bukan hanya aku satu-satunya orang yang kesal dengan penundaan ini. “Aku bisa membayangkan kalau kamu lagi cemberut, sayang. Pasti tambah cantik.”
“Udah deh, Ali bikin Abi tambah kesel aja. Abi ini udah capek-capek nyetir. Gak mau tau, pokoknya ntar Ali yang musti nyetir dari Balikpapan. Abi capek.”
“Iya, sayang tenang aja. Ntar aku yang nyetir. Abi ngopi dimana sekarang?”
“Di Bandara lah. Masa mau ke mall. Kejauhan kali.”
“Iya, Ali tau. Di sebelah mana?”
“Deket tangga, gak jauh dari terminal kedatangan.” Aku mulai malas menjawab telepon. Meskipun aroma kopi sudah mengisi perutku, rupanya kafeinnya tidak bekerja untuk otakku. Aku merebahkan kepalaku di meja, berbantal lengan kiriku yang tidak memegang handphone.
“Ya udah deh. Abi tunggu ya. Sejaman lagi aku nyampe. Udah ya.” Aku membalas dengan anggukan malas, seakan-akan dia bisa melihatku. Dasar bodoh!
Satu menit...tiga menit...lima menit....tujuh menit...aku bosan menghitung waktu. Mataku mulai terasa berat. Meja kayu yang keras ini akan segera menjadi tempat tidurku. Aku tak peduli, aku hanya ingin tidur. Mataku sudah 5 watt.
Akhirnya mataku terpejam. Entah untuk berapa lama, yang jelas tidur di tempat ini terasa nyaman. Aku bisa memimpikan detik-detik saat akhirnya aku bertemu Ali. This excitements embeded into my bubble dreams.
Aku bisa merasakan tangannya yang hangat menyentuh pipiku dengan halus. Membuatku semakin mengantuk. Lalu ia membelai rambutku, menyusuri setiap lekuk wajahku. Berbisik “I miss you, Bi”. Dia selalu memintaku mengatakannya, tapi kalimat itu tak pernah diucapkannya sekalipun.
Ini mimpi yang indah.
“Bi...tidurnya kok bisa enak banget, Bi?” Aku bisa mendengar suara Ali memenuhi gelembung-gelembung mimpiku. “Bi...bangun Bi, malu diliat orang.” Saraf-saraf simpatisku mulai bekerja mengalahkan rasa kantuk yang mendera. Aku mulai kembali ke riuhnya manusia-manusia yang tidak sabar menunggu penundaan. Suasana coffee shop kembali mengisi kesadaranku. Tapi kali ini ada orang lain yang duduk di depanku, orang itu meletakkan tangannya di pipiku. Ini kenyataan atau masih mimpi?
“Abi ini perempuan aneh. Bisa-bisanya tidur di tempat umum kayak gini.” Mataku langsung terbelalak. Ini bukan mimpi!
Memalukan! Pertemuan pertama seharusnya mengesankan.
“HAH?! Sejak kapan kamu di sini? Emang Abi tidur sejam ya?” Aku beranjak dari posisi tidurku. Mengusap-usap mataku. Untung aku tidak memiliki kebiasaan ngiler dan ngorok saat tidur. Bisa jadi lebih memalukan dari ini.
Ali tersenyum, mata sipitnya menatapku. Menelusur dalam-dalam menembus ke belakang otakku.
“Hai, Abi.” Tegurnya dengan suara lembut, aku pun tersenyum malu-malu. Membayangkan diriku sedang mengedip-ngedipkan mata dengan pipi bersemu merah.
“Hai, Ali.” Jawabku. Kami masih tersenyum malu dan saling menatap selama beberapa detik berikutnya.
“I’m here, Abi.” Katanya lagi.
“You’re here.” Jawabku sambil tersenyum. Kembali menatapnya dalam diam selama beberapa menit berikutnya.
“I really wanna kiss you right now.” Katanya.
“APA?!” tiba-tiba suasana saling menatap itu membuatku sangat malu. “Udah, ayo kita pulang.” Aku beranjak dari tempat duduk plus tempat tidurku. Ali pun mengikutiku. Aku tahu dia kesal karena aku menghindar. Ia menenteng backpack hitam-nya di satu pundak. Berdiri di depanku, siap mengikutiku. Tapi waktu aku baru melangkahkan satu kaki, ia menarik pinggangku, pelan dan tegas, lalu mendaratkan ciumannya di bibirku. Pelan dan lembut. Terdengar beberapa orang berteriak kaget. Masa bodoh ini tempat umum atau bukan. Aku menikmatinya, aku menyukai ciumannya.

Dua detik....lima detik....tujuh detik...saat Ali melepaskan ciumannya, kami berdua tersenyum geli. Tidak ada yang perlu dikatakan, kata-kata hanya akan menghilangkan makna.
Ali menggandeng tanganku sepanjang jalan menuju tempat parkir.
This is the time when I would say, “I love surprises!”
* * *
Kalau harus menjawabnya sekarang, I would say I dont know.
Aku sungguh-sungguh tidak tahu saat harus menghadapi kemanjaannya yang memaksa aku berkata ‘I love you’ saat dia meneleponku karena kangen dan terus menegaskan bahwa aku jatuh cinta padanya.
Tapi aku mencintainya saat dia memanggilku ‘sayang’ setiap kali mengangkat teleponku, aku mencintainya karena aku sungguh merasa nyaman mengetahui dia menyayangiku. Aku mencintainya saat ia membuatku terbahak-bahak di tengah malam buta mendengar ceritanya. Aku mencintainya karena ia bisa menjadi dewasa dan childish pada kondisi tertentu.
Apakah itu semua menunjukkan kalau aku mencintainya?Maybe. Jarak Jakarta-Bontang terlalu jauh untuk kami bertemu setiap hari dan mengungkapkan cinta [kalimat yang sering disalahartikan]. Jarak itu juga yang membuatku meragu saat ingin mengendapkan cintaku dalam-dalam untuknya. Aku belum mengenalnya dengan baik. Kehidupannya yang sebenarnya, and vice versa.
Honestly, I’ve never meet him. Hanya sekali melihatnya live on webcam dan berkali-kali [hampir tiap hari] chatting plus talking on the phone. Memang dasar hati, tak punya mata dan kepala, jatuh cinta pun tak terbendung.
Dan, mohon maaf kalau bahasaku campur aduk. Terkadang, aku lebih fasih dan nyaman menggunakan bahasa Inggris. Dalam tes IQ, kemampuan berbahasaku sangat tinggi, tapi giliran tes bahasa Indonesia, nilainya paling rendah diantara semua tes yang dilakukan, termasuk tes kemampuan abstrak dan bahasa asing.
Okay, love on the net is not really a guarantee that he really loves you. Bahkan, diragukan oleh orang-orang sekitarku yang mengatakan “jangan buang-buang hatimu untuk mencintai orang yang belum pernah kamu temui”
“Yaa...gue udah jatuh cinta aja, mau gimana lagi?” Jawaban khasku saat teman-teman dekatku meragukan rasa sayangnya kepadaku. Well, they just wanna protect me from hurting, you know.
Mmm....yang namanya jatuh cinta, nyata ataupun maya, tetap saja membuat hatimu berbunga-bunga. Kalau dalam film India, sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta akan berlari-lari di kebun bunga lalu bernyanyi dan menari mengungkapkan cinta. Saat lagu berakhir, barulah kembali ke realita. Kira-kira seperti itu.
Aku dan Ali akan menapaki kenyataan saat kami bertemu. When the meet cute finnally ours.
* * *
Siang ini Sepinggan terlihat lengang, aktivitas lebih banyak terjadi di sekitar pintu masuk keberangkatan. Hanya ada beberapa orang lalu-lalang di sekitar ruang tunggu terminal kedatangan. Aku mulai bosan memelototi layar besar yang menguraikan jadwal kedatangan. Tertulis di situ, kedatangan pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta tertunda. Menyebalkan!
Beberapa menit lalu, Ali menelponku
“Bi, pesawatnya ditunda sampai jam 5. Sabar ya Bi.” Seharusnya dunia tahu, aku bukanlah tipe orang penyabar. Patients is a skill and I dont have that kind of skill.
“Ya udah deh, Abi tunggu di Bandara aja.” Aku mulai mengambil napas panjang dan melepaskannya bersama kekesalanku.
Seharusnya aku tahu kalau pesawat di jaman sekarang ini tidak ada yang on time. Kalau saja aku menganut sistem itu, aku tidak akan bangun subuh dan menyetir sendiri selama 5 jam untuk menjemput kekasih mayaku itu.
Yup! This is the day when the meet cute is really going to happen.
Satu menit...dua menit...lima menit...Duduk di ruang tunggu membuatku kesal. Akhirnya aku beralih ke coffee shop di samping tangga yang menuju ke waving terminal di lantai 2. Berharap sepotong kue manis dan iced capuccino bisa membuatku melupakan kekesalan.
Handphone di saku jeansku berdering dan bergetar singkat. Tanda sms masuk.
From: Dokter Ikan Abi [0812964xxxx]
Lg ngapain, Bi? G lagi marah2 kan?
Manusia yang satu ini seperti sudah mengenalku sejak 10 tahun lalu. Atau dia memiliki teropong bulan yang bisa mendeteksi setiap gerak-gerikku?
To: Dokter Ikan Abi [0812964xxxx]
G kok, Abi lg ngopi. Abi sangat SABAR.
Tak lama terdengar dering dan getar panjang. Nama Dokter Ikan Abi muncul di layar besar blackberry-ku.
“Halo.” Jawabku singkat dengan muka cemberut yang tak bisa dilihatnya.
“Abi kalo lagi kesel tambah cantik deh. Tapi gak pake cemberut gitu dong, sayang.”
“Abi gak cemberut kok. Sok tau.” Terdengar tawa renyah dari seberang telepon. Suasana di latar belakangnya terdengar riuh. Aku menduga, bukan hanya aku satu-satunya orang yang kesal dengan penundaan ini. “Aku bisa membayangkan kalau kamu lagi cemberut, sayang. Pasti tambah cantik.”
“Udah deh, Ali bikin Abi tambah kesel aja. Abi ini udah capek-capek nyetir. Gak mau tau, pokoknya ntar Ali yang musti nyetir dari Balikpapan. Abi capek.”
“Iya, sayang tenang aja. Ntar aku yang nyetir. Abi ngopi dimana sekarang?”
“Di Bandara lah. Masa mau ke mall. Kejauhan kali.”
“Iya, Ali tau. Di sebelah mana?”
“Deket tangga, gak jauh dari terminal kedatangan.” Aku mulai malas menjawab telepon. Meskipun aroma kopi sudah mengisi perutku, rupanya kafeinnya tidak bekerja untuk otakku. Aku merebahkan kepalaku di meja, berbantal lengan kiriku yang tidak memegang handphone.
“Ya udah deh. Abi tunggu ya. Sejaman lagi aku nyampe. Udah ya.” Aku membalas dengan anggukan malas, seakan-akan dia bisa melihatku. Dasar bodoh!
Satu menit...tiga menit...lima menit....tujuh menit...aku bosan menghitung waktu. Mataku mulai terasa berat. Meja kayu yang keras ini akan segera menjadi tempat tidurku. Aku tak peduli, aku hanya ingin tidur. Mataku sudah 5 watt.
Akhirnya mataku terpejam. Entah untuk berapa lama, yang jelas tidur di tempat ini terasa nyaman. Aku bisa memimpikan detik-detik saat akhirnya aku bertemu Ali. This excitements embeded into my bubble dreams.
Aku bisa merasakan tangannya yang hangat menyentuh pipiku dengan halus. Membuatku semakin mengantuk. Lalu ia membelai rambutku, menyusuri setiap lekuk wajahku. Berbisik “I miss you, Bi”. Dia selalu memintaku mengatakannya, tapi kalimat itu tak pernah diucapkannya sekalipun.
Ini mimpi yang indah.
“Bi...tidurnya kok bisa enak banget, Bi?” Aku bisa mendengar suara Ali memenuhi gelembung-gelembung mimpiku. “Bi...bangun Bi, malu diliat orang.” Saraf-saraf simpatisku mulai bekerja mengalahkan rasa kantuk yang mendera. Aku mulai kembali ke riuhnya manusia-manusia yang tidak sabar menunggu penundaan. Suasana coffee shop kembali mengisi kesadaranku. Tapi kali ini ada orang lain yang duduk di depanku, orang itu meletakkan tangannya di pipiku. Ini kenyataan atau masih mimpi?
“Abi ini perempuan aneh. Bisa-bisanya tidur di tempat umum kayak gini.” Mataku langsung terbelalak. Ini bukan mimpi!
Memalukan! Pertemuan pertama seharusnya mengesankan.
“HAH?! Sejak kapan kamu di sini? Emang Abi tidur sejam ya?” Aku beranjak dari posisi tidurku. Mengusap-usap mataku. Untung aku tidak memiliki kebiasaan ngiler dan ngorok saat tidur. Bisa jadi lebih memalukan dari ini.
Ali tersenyum, mata sipitnya menatapku. Menelusur dalam-dalam menembus ke belakang otakku.
“Hai, Abi.” Tegurnya dengan suara lembut, aku pun tersenyum malu-malu. Membayangkan diriku sedang mengedip-ngedipkan mata dengan pipi bersemu merah.
“Hai, Ali.” Jawabku. Kami masih tersenyum malu dan saling menatap selama beberapa detik berikutnya.
“I’m here, Abi.” Katanya lagi.
“You’re here.” Jawabku sambil tersenyum. Kembali menatapnya dalam diam selama beberapa menit berikutnya.
“I really wanna kiss you right now.” Katanya.
“APA?!” tiba-tiba suasana saling menatap itu membuatku sangat malu. “Udah, ayo kita pulang.” Aku beranjak dari tempat duduk plus tempat tidurku. Ali pun mengikutiku. Aku tahu dia kesal karena aku menghindar. Ia menenteng backpack hitam-nya di satu pundak. Berdiri di depanku, siap mengikutiku. Tapi waktu aku baru melangkahkan satu kaki, ia menarik pinggangku, pelan dan tegas, lalu mendaratkan ciumannya di bibirku. Pelan dan lembut. Terdengar beberapa orang berteriak kaget. Masa bodoh ini tempat umum atau bukan. Aku menikmatinya, aku menyukai ciumannya.
Dua detik....lima detik....tujuh detik...saat Ali melepaskan ciumannya, kami berdua tersenyum geli. Tidak ada yang perlu dikatakan, kata-kata hanya akan menghilangkan makna.
Ali menggandeng tanganku sepanjang jalan menuju tempat parkir.
This is the time when I would say, “I love surprises!”
* * *
Januari 21, 2009
Look Around
Januari 21, 2009
my eyes watching all around, my thoughts fly away all around...
Aku tinggal di Makassar hampir 8 tahun, apa yang berubah secara signifikan?
RUKO. Datanglah ke kota ini, maka kalian akan melihat jajaran rumah-toko di sepanjang jalan, pemandangannya memang lebih bersih dan tertata, tidak ada lagi lahan yang diabaikan. tapi banjir meluber kemana-mana, bahkan jalanan di km 4 tembusan dari jalan tol dan jalan utama menuju daerah perkotaan, tergenang kopi susu gratis yang gak enak di mulut. PLUS kemacetan gara-gara angkot yang gak tau sopan santun berhenti seenaknya di pinggir jalan demi mengejar penumpang. Apakah mereka se-desperate itu mencari uang sampai berani membahayakan nyawa pengendara bermotor lainnya. Mustinya sebelum diberi SIM, mereka harus ikut sekolah kepribadian khusus supir. taught them to drive appropriately !!
Masalah lain lagi adalah preman! bayangin aja, di setiap tikungan jalan ada anak-anak atau remaja tanggung yang 'bersedia' membantu memberi aba-aba. Do you know what would they do kalau tanganmu tidak memberi selembar kertas seribuan lewat jendela mobil? they'll scratch your car !! Mereka tidak hanya 'membantu' memandu supir berbelok di tikungan, tapi juga 'membantu' pejalan kaki menyeberang jalan super besar yang kini mengisi jalanan protokol kota makassar. Aku punya cerita aneh soal ini. Beberapa hari lalu, waktu aku baru pulang dari rumah sakit menjenguk temanku operasi, all alone, dan melangkahkan kaki untuk menyeberang jalan di depan rumah sakit Ibnu sina depan UMI, seorang remaja tanggung [of course cowok] membantuku menyeberang jalan tanpa diminta, waktu aku naik angkot, wajahnya tertempel di jendela angkot, aku sama sekali gak berminat memberinya uang sepeser pun. Lalu, seorang ibu-ibu tua yang merupakan satu-satunya penumpang menegurku dengan logat makassarnya 'kasih uang tawwa, kasihan.' Tiba-tiba aja aku menjawab 'kebiasaan.' Beberapa detik kemudian dia berceramah tentang 'anak itu melakukannya demi mencari uang'. Sumpah! kesel banget, aku jawab 'bu, kalo dikasih uang terus-terusan, jadi kebiasaan dan kalo mereka udah gede jadi preman! Kalau mau dapat uang, kan bisa cari kerjaan yang lebih baik.' Then she shut her mouth.
Aku sama sekali gak berpikiran untuk kurang ajar sama orang tua, tapi aku merasa dia gak perlu mengaturku untuk hal-hal yang sudah aku ketahui dengan jelas. Dan, poster super besar yang dipajang di pinggir jalan besar bertuliskan 'dilarang mengemis, kecuali di tempat ibadah' rasanya kurang efektif!
Memang, kalau mempertimbangkan perasaan dan naluri manusiawi, aku juga iba dengan kehidupan mereka. Tidak sekolah, tidak punya keahlian [selain, menyeberangkan jalan atau mengarahkan mobil parkir, dan menodongkan tangan]. Tapi, hidup adalah untuk belajar, dan mereka harus belajar tentang ini! Tidak akan mudah, tapi they have to try. It supposed to be hard. Setiap orang pasti pernah menjalani kesusahan, bukan?
Mereka harus tau, pendidikan adalah modal utama kehidupan yang lebih baik [just like what my mom told me].
Kekesalanku yang lain adalah SAMPAH!! Mau tau apa yang pertama kali terlintas di kepalaku waktu menginjakkan kaki keluar dari Bandara Hasanuddin tahun 2001 silam?
'gila, ini kota besar tapi kok kotor banget yahh?' pandangan itu mulai melekat di kepalaku waktu aku berjalan kaki menyusuri kampus, mulai dari rektorat sampai fakultasku. Rasanya jijik melangkahkan kaki di tempat itu. setiap sudut selalu terkumpul sampah. Sekarang keadaannya udah beda, sedikit lebih baik. Tapi juga gak bisa dibilang bersih. Masih kalah dengan kota kecil bernama bontang. That's what I thought.
"Dimana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung"
I respect this place and everything in it, but I still have my personal opinions.
Come on, Makassar. You could do better !!
Aku tinggal di Makassar hampir 8 tahun, apa yang berubah secara signifikan?
RUKO. Datanglah ke kota ini, maka kalian akan melihat jajaran rumah-toko di sepanjang jalan, pemandangannya memang lebih bersih dan tertata, tidak ada lagi lahan yang diabaikan. tapi banjir meluber kemana-mana, bahkan jalanan di km 4 tembusan dari jalan tol dan jalan utama menuju daerah perkotaan, tergenang kopi susu gratis yang gak enak di mulut. PLUS kemacetan gara-gara angkot yang gak tau sopan santun berhenti seenaknya di pinggir jalan demi mengejar penumpang. Apakah mereka se-desperate itu mencari uang sampai berani membahayakan nyawa pengendara bermotor lainnya. Mustinya sebelum diberi SIM, mereka harus ikut sekolah kepribadian khusus supir. taught them to drive appropriately !!
Masalah lain lagi adalah preman! bayangin aja, di setiap tikungan jalan ada anak-anak atau remaja tanggung yang 'bersedia' membantu memberi aba-aba. Do you know what would they do kalau tanganmu tidak memberi selembar kertas seribuan lewat jendela mobil? they'll scratch your car !! Mereka tidak hanya 'membantu' memandu supir berbelok di tikungan, tapi juga 'membantu' pejalan kaki menyeberang jalan super besar yang kini mengisi jalanan protokol kota makassar. Aku punya cerita aneh soal ini. Beberapa hari lalu, waktu aku baru pulang dari rumah sakit menjenguk temanku operasi, all alone, dan melangkahkan kaki untuk menyeberang jalan di depan rumah sakit Ibnu sina depan UMI, seorang remaja tanggung [of course cowok] membantuku menyeberang jalan tanpa diminta, waktu aku naik angkot, wajahnya tertempel di jendela angkot, aku sama sekali gak berminat memberinya uang sepeser pun. Lalu, seorang ibu-ibu tua yang merupakan satu-satunya penumpang menegurku dengan logat makassarnya 'kasih uang tawwa, kasihan.' Tiba-tiba aja aku menjawab 'kebiasaan.' Beberapa detik kemudian dia berceramah tentang 'anak itu melakukannya demi mencari uang'. Sumpah! kesel banget, aku jawab 'bu, kalo dikasih uang terus-terusan, jadi kebiasaan dan kalo mereka udah gede jadi preman! Kalau mau dapat uang, kan bisa cari kerjaan yang lebih baik.' Then she shut her mouth.
Aku sama sekali gak berpikiran untuk kurang ajar sama orang tua, tapi aku merasa dia gak perlu mengaturku untuk hal-hal yang sudah aku ketahui dengan jelas. Dan, poster super besar yang dipajang di pinggir jalan besar bertuliskan 'dilarang mengemis, kecuali di tempat ibadah' rasanya kurang efektif!

Memang, kalau mempertimbangkan perasaan dan naluri manusiawi, aku juga iba dengan kehidupan mereka. Tidak sekolah, tidak punya keahlian [selain, menyeberangkan jalan atau mengarahkan mobil parkir, dan menodongkan tangan]. Tapi, hidup adalah untuk belajar, dan mereka harus belajar tentang ini! Tidak akan mudah, tapi they have to try. It supposed to be hard. Setiap orang pasti pernah menjalani kesusahan, bukan?
Mereka harus tau, pendidikan adalah modal utama kehidupan yang lebih baik [just like what my mom told me].
Kekesalanku yang lain adalah SAMPAH!! Mau tau apa yang pertama kali terlintas di kepalaku waktu menginjakkan kaki keluar dari Bandara Hasanuddin tahun 2001 silam?
'gila, ini kota besar tapi kok kotor banget yahh?' pandangan itu mulai melekat di kepalaku waktu aku berjalan kaki menyusuri kampus, mulai dari rektorat sampai fakultasku. Rasanya jijik melangkahkan kaki di tempat itu. setiap sudut selalu terkumpul sampah. Sekarang keadaannya udah beda, sedikit lebih baik. Tapi juga gak bisa dibilang bersih. Masih kalah dengan kota kecil bernama bontang. That's what I thought.
"Dimana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung"
I respect this place and everything in it, but I still have my personal opinions.
Come on, Makassar. You could do better !!
Januari 20, 2009
Lazy Cat
Januari 20, 2009
Rumahku punya penghuni tetap, gak tau sejak kapan, yang jelas kucing hitam belang-belang yang satu ini sudah ada di atas keset dapur sejak aku pindah ke sini.
Selama aku tinggal di rumah itu, dia sudah tiga kali punya anak. kerjaannya cuma makan, tidur dan beranak [tersinggung??].
Sejak musim hujan datang mengguyur makassar setiap hari, dan banjir menghampiri halaman rumahku, kucing itu pindah tidur di atas meja teras depan. kurasa itu jadi tempat favoritnya, dan dia juga punya tugas tambahan selain makan, tidur dan beranak, yaitu menjaga surat tagihan kartu kredit yang dibawakan pak pos.

Herannya, even dikasih makan tiap hari dan bergizi pula [secara ibu kos jago masak], kucing malas ini gak gemuk-gemuk juga, padahal dia gak punya anak untuk dibagi jatah makanan. kemana perginya semua nutrisi itu? [pertanyaan itu juga pernah kulontarkan untuk seorang temanku yang tetap kurus even makannya buanyak banget...ngiri gitu loh]
So, this lazy cat story reflecting human behaviour juga [kalo kamu tersinggung].
Look inside yourself, what have you done to your life?? [and mine too, of course]
Selama aku tinggal di rumah itu, dia sudah tiga kali punya anak. kerjaannya cuma makan, tidur dan beranak [tersinggung??].
Sejak musim hujan datang mengguyur makassar setiap hari, dan banjir menghampiri halaman rumahku, kucing itu pindah tidur di atas meja teras depan. kurasa itu jadi tempat favoritnya, dan dia juga punya tugas tambahan selain makan, tidur dan beranak, yaitu menjaga surat tagihan kartu kredit yang dibawakan pak pos.

Herannya, even dikasih makan tiap hari dan bergizi pula [secara ibu kos jago masak], kucing malas ini gak gemuk-gemuk juga, padahal dia gak punya anak untuk dibagi jatah makanan. kemana perginya semua nutrisi itu? [pertanyaan itu juga pernah kulontarkan untuk seorang temanku yang tetap kurus even makannya buanyak banget...ngiri gitu loh]
So, this lazy cat story reflecting human behaviour juga [kalo kamu tersinggung].
Look inside yourself, what have you done to your life?? [and mine too, of course]
Januari 18, 2009
Gokil Saturday
Januari 18, 2009
This is called 'gokil' saturday.
Here's what we did...
Jeng Non datang niatnya numpang mandi [air di rusun lagi macet...protes tuh sama pengelolanya..hihihi...] So, she stay all day at my house. While, I have super sale laundry yang gak kunjung diambil sama si tukang laundry yang udah ditelpon sejak pagi.
Trus, karena kelaparan en blom mandi, Jeng Non sibuk nyari makanan en pesen makanan kanan-kiri, mulai dari nasi padang sampe red crispy...setelah nunggu 3 jam [hampir jam 6an makanannya baru dianter boo] dan sempet makan bakso yang lewat saking lapernya, akhirnya pesenan di red crispy nyampe juga [plus kentang large portion for me, of course hehehe] Nasi padangnya gak dianterin [Huh !!]. Even dah kenyang tetep aja Jeng Non melumat habis ayam goreng beserta nasinya.
Setelah kekenyangan dan gosip sudah habis dibahas, komik sudah dibaca, pekerjaanku dah beres, kami mulai kekurangan pekerjaan. Akhirnya ngebahas segala macam, mulai dari kelangkaan gas tabung untuk kompor gas miniku, sampai mengkhayal pergi ke Carrefour di Panakukkang square cuma untuk nyari gas dan masak nugget. Finally, we decided to go! Becek-becek gak ada ojek, setelah hujan deras mengguyur makassar seharian, akhirnya kami nekad pergi jalan kaki ke carrefour deket rumah [padahal yang direncanain ke carrefour MP. hahaha]. Kami cuma bermodal debit card, duit di kantong cuma 10 ribu en Nonik punya 11 ribu di dompetnya [hahaha...].
Terjadilah acara berbelanja kami. Ternyata gas memang beneran langka! jadi barang-barang yang masuk ke keranjangku gak karuan, karena tujuan utama gak terpenuhi. Mulai dari tortilla happy tos, pepsodent whitening, segala jenis pembalut [hahahha...], keripik kentang kusuka, tart satin bercherry banyak [personal choice hihihi], jeruk squash, coca cola zero, fruit tea, boks plastik gak penting...dan sempet ngutil beberapa kelengkeng [padahal jelas-jelas ada tulisan 'dilarang mencoba'].
Turns out, uang di bank berkurang 106 ribu beberapa rupiah akibat pergesekan kartu dengan mesin kasir. bisa dilihat, betapa mahalnya barang-barang kecil itu, padahal gak penting-penting amat. So, girls...jangan sering-sering bete dan melampiaskannya pada belanja, harganya mahal bo! [hahahha...]
The crazy day blom berakhir sampai di sini. Setelah pulang ke rumahku, kami mulai bereksperimen setelah nonton satu iklan menarik di TV. [hahaha...memalukan, but I'll show u anyway].



Tau Jeng Kelin yang di primetime Trans TV itu kan? Pernah mempraktekkan bagaimana dandanan dan segala kekonyolan anak FK itu? well, we did it, even cemong-cemong gak jelas ni muka. yang penting ada lipstik merah en bedak putih. So, this is it...hasilnya, aku mulai ambil Hape en kami bergaya ala jeng kelin yang super nyebelin itu.



The night is done saat jarum jam menunjuk angka jam 10 lebih dan gebetan-gebetan kami yang jauh mulai menelpon, bubarlah acara gila-gila kami berdua di kamarku, fokus nanggapin telpon bo! [coba kalian gak usah nelpon, this madness wouldn't be over. Huh!]
Here's what we did...
Jeng Non datang niatnya numpang mandi [air di rusun lagi macet...protes tuh sama pengelolanya..hihihi...] So, she stay all day at my house. While, I have super sale laundry yang gak kunjung diambil sama si tukang laundry yang udah ditelpon sejak pagi.

Trus, karena kelaparan en blom mandi, Jeng Non sibuk nyari makanan en pesen makanan kanan-kiri, mulai dari nasi padang sampe red crispy...setelah nunggu 3 jam [hampir jam 6an makanannya baru dianter boo] dan sempet makan bakso yang lewat saking lapernya, akhirnya pesenan di red crispy nyampe juga [plus kentang large portion for me, of course hehehe] Nasi padangnya gak dianterin [Huh !!]. Even dah kenyang tetep aja Jeng Non melumat habis ayam goreng beserta nasinya.
Setelah kekenyangan dan gosip sudah habis dibahas, komik sudah dibaca, pekerjaanku dah beres, kami mulai kekurangan pekerjaan. Akhirnya ngebahas segala macam, mulai dari kelangkaan gas tabung untuk kompor gas miniku, sampai mengkhayal pergi ke Carrefour di Panakukkang square cuma untuk nyari gas dan masak nugget. Finally, we decided to go! Becek-becek gak ada ojek, setelah hujan deras mengguyur makassar seharian, akhirnya kami nekad pergi jalan kaki ke carrefour deket rumah [padahal yang direncanain ke carrefour MP. hahaha]. Kami cuma bermodal debit card, duit di kantong cuma 10 ribu en Nonik punya 11 ribu di dompetnya [hahaha...].
Terjadilah acara berbelanja kami. Ternyata gas memang beneran langka! jadi barang-barang yang masuk ke keranjangku gak karuan, karena tujuan utama gak terpenuhi. Mulai dari tortilla happy tos, pepsodent whitening, segala jenis pembalut [hahahha...], keripik kentang kusuka, tart satin bercherry banyak [personal choice hihihi], jeruk squash, coca cola zero, fruit tea, boks plastik gak penting...dan sempet ngutil beberapa kelengkeng [padahal jelas-jelas ada tulisan 'dilarang mencoba'].Turns out, uang di bank berkurang 106 ribu beberapa rupiah akibat pergesekan kartu dengan mesin kasir. bisa dilihat, betapa mahalnya barang-barang kecil itu, padahal gak penting-penting amat. So, girls...jangan sering-sering bete dan melampiaskannya pada belanja, harganya mahal bo! [hahahha...]
The crazy day blom berakhir sampai di sini. Setelah pulang ke rumahku, kami mulai bereksperimen setelah nonton satu iklan menarik di TV. [hahaha...memalukan, but I'll show u anyway].



Tau Jeng Kelin yang di primetime Trans TV itu kan? Pernah mempraktekkan bagaimana dandanan dan segala kekonyolan anak FK itu? well, we did it, even cemong-cemong gak jelas ni muka. yang penting ada lipstik merah en bedak putih. So, this is it...hasilnya, aku mulai ambil Hape en kami bergaya ala jeng kelin yang super nyebelin itu.



The night is done saat jarum jam menunjuk angka jam 10 lebih dan gebetan-gebetan kami yang jauh mulai menelpon, bubarlah acara gila-gila kami berdua di kamarku, fokus nanggapin telpon bo! [coba kalian gak usah nelpon, this madness wouldn't be over. Huh!]
Januari 12, 2009
Lelah Protes
Januari 12, 2009
Jam 4 subuh, Pak Tino sudah keluar rumah. Kedua kakinya yang legam dan berotot mengayuh becak sewaannya. Bulan Ramadhan, baginya sama saja dengan hari-hari atau bulan-bulan lainnya. Pak Tino sudah terbiasa berpuasa sampai menjelang senja, saat uang hasil kayuhan becaknya terkumpul dan istrinya memasak makanan seadanya. Ikan masak dan nasi, yang harus dibaginya dengan 7 anggota keluarga lainnya. Empat anaknya dan orang tuanya yang ikut tinggal bersamanya di gubuk sumpek berpenerang lilin seadanya. Pak Tino sudah lelah protes pada kehidupannya. Yang penting ia bisa memberi makan keluarganya, itu sudah cukup.
Satu Jam Saja
Kupeluk erat tubuhnya untuk terakhir kali. Air mataku tak tertahankan lagi, aku menangisinya. Merelakan perpisahan ini. Aku sangat mencintainya, tapi ini saatnya semua yang kami jalani harus usai. Inilah akhir perjalanan lima tahun kami bersama. Sakit dan hancur. Semua harus dilakukan demi seorang gadis desa yang telah merebut hatinya. Aku membencinya, tapi aku juga menginginkan dia bahagia bersama gadis itu. Aku tahu, akulah pemenangnya. Dan, laki-laki yang kudekap erat ini, tak akan pernah melupakanku seumur hidupnya. Karena aku adalah cintanya yang terdalam. Satu jam terakhir, aku ingin berbahagia bersamanya. Merelakannya. Membiarkannya pergi. Meninggalkanku di depan pintu, berurai air mata.
Januari 08, 2009
Selingkuhan Mantan
Januari 08, 2009
Tatapan sinisnya berkelebat di hadapanku. Rivalku. Selingkuhan mantan kekasih. Lirikan mautnya yang mencemburuiku hanya membuang waktu dan tenaga. Apakah ia tak menyadarinya? Aku sudah memuaskan diri mencecarnya dengan kebencianku. Dia sudah kalah, jauh sebelum aku mengetahui perselingkuhan itu. Dia yang menjadikanku musuhnya, tapi aku tak memiliki anggapan sedikitpun tentang dirinya.
Lagi-lagi, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mantan kekasih yang tak berharga, untuk apa dibela.
Lagi-lagi, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mantan kekasih yang tak berharga, untuk apa dibela.
Januari 07, 2009
SisterHood
Januari 07, 2009
Setelah 2 tahun nggak ketemu, akhirnya we’re here together again, talking about anything, laughing at anything, smiling and sharing stories of our life. Satu hal yang paling mencolok dalam penggosipan kami adalah “Marriage” [hahaha...] ternyata udah ngerasa tua dan saatnya menggandeng suami.
Udha yang punya gandengan dokter selama 4 tahun 3 bulan dan keluarga udah ngomongin soal ‘kesabaran’ menuju pernikahan [this is become the most annoying issue in her life right now]. Aku pernah ada di posisinya 2 tahun lalu, menunggu dilamar sang kekasih dan ditanya semua teman ‘kapan undangannya nihh??’ adalah hal yang paling menjengkelkan dan jawaban ‘insyaallah, sabar aja’ musti dipatenkan untuk semua orang tanpa pandang bulu.
Stien adalah yang paling dewasa dan tenang diantara kami berempat, paling bisa menyembunyikan perasaannya yang meluap-luap penuh kebahagiaan. Dia adalah orang yang paling sibuk bertanya ‘jadi, kapan neh?’, ternyata dia menyimpan seorang laki-laki Belanda di hatinya [pasti hasil liburan selama beberapa bulan di Eropa 2 tahun lalu, hahahaha....]. Stien yang rela bolak-balik Makassar-Toraja selama 7 jam mengantarkan insulin untuk ayahnya saat ini belum beruntung soal pekerjaan alias pengangguran. I can see she’s so stress right now, tapi Stien selalu bisa mengatasi tampilan wajahnya, dia orang yang santai menghadapi waktu dan tuntutan hidup.
Asni is the smartest, sekarang lanjut S2 hukum dan masih tenggelam dengan segala kesibukannya sebagai mahasiswi pasca. Single. Penampilannya mulai berubah tanpa kacamata botol itu...hahaha...kacamatanya paling tebal diantara kami bertiga; Stien mulai pake contact lense biru sesuai seleranya akan bule; Udha mulai pakai polo sejak setahun terakhir dan rajin check up di Orbita; and aku masih menghadapi iritasi mataku yang nggak kunjung sembuh dengan resep dokterku: tetes mata 5x sehari dan salep 3x sehari, plus kacamata gaya untuk menghindari angin polusi nempel ke mataku.
Kehidupanku dan Asni nggak jauh berbeda, single dan tetap menyibukan diri untuk menghindari kesepian yang akan merenggut jiwa. Jadi, pada saat kami sibuk mencecar Udha dengan pertanyaan seputar pernikahan, di dalam hati masing-masing kami bertanya-tanya ‘kapan gue ketemu jodoh ya?’ [hahahaha....]
Kami berjanji saling mengunjungi dan berkumpul seperti ini lagi suatu hari nanti [waktunya tidak pernah direncanakan]. Sore itu, setelah bergosip selama 4 jam sampai suasana dan orang-orang di sekitar kami berubah, akhirnya kami saling mencium pipi dan mengucapkan perpisahan sampai waktu yang tidak ditentukan. So, this sisterhood nggak akan pernah putus dan kami akan tetap menjadi sahabat.
Udha yang punya gandengan dokter selama 4 tahun 3 bulan dan keluarga udah ngomongin soal ‘kesabaran’ menuju pernikahan [this is become the most annoying issue in her life right now]. Aku pernah ada di posisinya 2 tahun lalu, menunggu dilamar sang kekasih dan ditanya semua teman ‘kapan undangannya nihh??’ adalah hal yang paling menjengkelkan dan jawaban ‘insyaallah, sabar aja’ musti dipatenkan untuk semua orang tanpa pandang bulu.
Stien adalah yang paling dewasa dan tenang diantara kami berempat, paling bisa menyembunyikan perasaannya yang meluap-luap penuh kebahagiaan. Dia adalah orang yang paling sibuk bertanya ‘jadi, kapan neh?’, ternyata dia menyimpan seorang laki-laki Belanda di hatinya [pasti hasil liburan selama beberapa bulan di Eropa 2 tahun lalu, hahahaha....]. Stien yang rela bolak-balik Makassar-Toraja selama 7 jam mengantarkan insulin untuk ayahnya saat ini belum beruntung soal pekerjaan alias pengangguran. I can see she’s so stress right now, tapi Stien selalu bisa mengatasi tampilan wajahnya, dia orang yang santai menghadapi waktu dan tuntutan hidup.
Asni is the smartest, sekarang lanjut S2 hukum dan masih tenggelam dengan segala kesibukannya sebagai mahasiswi pasca. Single. Penampilannya mulai berubah tanpa kacamata botol itu...hahaha...kacamatanya paling tebal diantara kami bertiga; Stien mulai pake contact lense biru sesuai seleranya akan bule; Udha mulai pakai polo sejak setahun terakhir dan rajin check up di Orbita; and aku masih menghadapi iritasi mataku yang nggak kunjung sembuh dengan resep dokterku: tetes mata 5x sehari dan salep 3x sehari, plus kacamata gaya untuk menghindari angin polusi nempel ke mataku.
Kehidupanku dan Asni nggak jauh berbeda, single dan tetap menyibukan diri untuk menghindari kesepian yang akan merenggut jiwa. Jadi, pada saat kami sibuk mencecar Udha dengan pertanyaan seputar pernikahan, di dalam hati masing-masing kami bertanya-tanya ‘kapan gue ketemu jodoh ya?’ [hahahaha....]
Kami berjanji saling mengunjungi dan berkumpul seperti ini lagi suatu hari nanti [waktunya tidak pernah direncanakan]. Sore itu, setelah bergosip selama 4 jam sampai suasana dan orang-orang di sekitar kami berubah, akhirnya kami saling mencium pipi dan mengucapkan perpisahan sampai waktu yang tidak ditentukan. So, this sisterhood nggak akan pernah putus dan kami akan tetap menjadi sahabat.
Langganan:
Postingan (Atom)